Langsung ke konten utama

Postingan

Tentang Seonggok Daging Penagih Tanda Tangan

Rocker juga manusia bukan? Andai Che Guevara masih hidup dan sedang menyelesaikan skripsinya di salah satu Universitas di Indonesia, ia akan mengeluh seperti ini. Aku lebih suka perjuangan yang berdarah-darah untuk merebut sesuatu yang sudah pasti transformatif. Perang gerilya di hutan belantara yang lembab, dimana setiap detiknya hidup terasa begitu dekat dengan kematian. Namun kami semua cukup berani tuk melawan atas nama solidaritas tuk menyudahi penindasan ini. Untuk itu semua aku lebih suka mengobati kamerad yang terluka atau sakit karena kejamnya realitas yang kami hadapi ketimbang mengobati diriku sendiri atas sakit paru-paru yang begitu tidak tahu diri datang disaat yang tidak dibutuhkan. Aku lebih suka itu semua ketimbang berjuang menjadi mahasiswa tingkat akhir dimana kampus beserta jejeran staf birokrasi mereduksi perjuangan mahasiswa menjadi sekedar kemampuan untuk pasrah menunggu berbagai hal yang tak pasti. Tanda tangan dosen pembimbing, urusan berkas administratif, dan ...

IKUT DEMO?

Pagi ini terasa sejuk sekali, cuaca sungguh mengerti bagaimana cara untuk memperlakukan mereka yang berurusan dengan kegiatan luar ruangan. Termasuk mahasiswa militan (baca: karbitan) untuk berdemo ria menuntut segala sesuatu pada negara tercinta ini. Temanku termasuk salah satunya, ia juga setengah memaksa agar aku turut serta 'menghitamkan' gedung DPRD kalbar seperti mahasiswa-mahasiswa kebanyakan. Ia bicara panjang lebar tentang kebobrokan pemerintah, negara, dan keharusan menjadi mahasiswa dengan suasana bicara seperti nabi yang sedang menjajakan surga. Hanya saja, aku tak sampai hati untuk menjelaskan sikap politikku untuk menolak ajakannya. Aku lebih memilih diam sambil menggelengkan kepala dan merespon dengan jawaban yang tidak masuk akal. Paling tidak trend demo ini membuatnya kembali hidup sebagai manusia setelah sebelumnya ia hanya mati segan hidup tak mau setelah semua perempuan membuatnya takut untuk mencintai. Aku tak sampai hati untuk merenggut semangatnya tuk be...

Merayakan Kematian Nalar

Selalu ada pertama kali untuk segala sesuatu. Cheran menjadi kota anarkis pertama di Mexico yang berhasil mengatur dirinya sendiri secara otonom tanpa bantuan pemerintah. Neil Amstrong manusia pertama yang berhasil mendarat di bulan. Tahun 2012 untuk pertama kalinya Canibus dibantai dengan sangat memalukan pada sebuah rap battle. Nietzsche filsuf pertama yang menelanjangi moralitas penganut Kristen eropa. Jerinx orang Indonesia pertama, yang secara massif, membuktikan bahwa musik, idealisme serta konsistensi memiliki daya pukul yang membuat simbiosa mutual oligarki dan Negara tak lebih bernilai dari kumpulan pandir bermodal. Dan untuk hal yang paling ajaib dalam hidup saya, untuk pertama kalinya saya sudi menonton debat capres. Sebuah kesadaran yang jarang sekali saya pikirkan mengingat betapa kotornya iklim politik di negeri ini. Kesadaran itu dipantik oleh seorang kawan, sebut saja Mawar, sore itu saat sedang membicarakan agenda ngumpul pada malam harinya. ‘’Nanti mal...

Membongkar Relasi Kuasa Ilmu Pengetahuan

  Dalam ‘Manusia Satu Dimensi’, Herbert Marcuse memproyeksikan peradaban kapitalisme industri maju sebagai entitas masyarakat yang mengalami abrasi nalar kritis. Hal ini dapat dilihat dari manusianya yang terperangkap dalam fatamorgana kesadaran palsu (false consciousness), dengan memandang status quo dan masalah-masalah yang hadir di sekitar mereka sebagai sesuatu yang alami dan berjalan sebagaimana mestinya. Sedangkan mereka tak menyadari kondisi yang tercipta adalah hasil dari mekanisme kuasa kapitalisme. Terenggutnya nalar kritis dari setiap individu dalam masyarakat erat kaitanya dengan represi yang dilakukan oleh elemen kapitalisme. Tidak seperti di kapitalisme negara yang melanggengkan status quo melalui represi fisik dan pendisiplinan subjek secara paksa, kapitalisme industrial telah menghadirkan beragam ekspresi represif yang tidak dapat dirasakan secara jasmaniah. Elemen-elemen seperti pendidikan, media, gaya hidup, seni, dll menjadi medium sublim yang mempro...

Benarkah Gondrong Harus Diselamatkan?

Menjadi mahasiswa merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi siapapun yang beruntung dapat melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi dan memiliki spesialisasi di bidang ilmu tertentu. Betapa tidak, menjadi mahasiswa terkonotasi langsung dengan menjadi bebas dalam konteks belajar. Kita tidak lagi harus dipaksa tunduk dalam otomatisasi kedisiplinan artifisial ala sekolahan selama 12 tahun, dari SD, SMP dan SMA kita dipaksa mematuhi tata tertib dan proses belajar serba teratur di sekolah yang kemudian mendikte aktivitas keseharian kita dalam rutin-rutin yang monoton dan membosankan. Tata tertib sekolah kemudian menjadi substansi yang paling bertanggung jawab atas terrenggutnya keceriaan masa kanak-kanak kita dengan mereduksi hidup menjadi tanggung jawab moral keteraturan yang mengatur jam tidur, jam bangun tidur, jadwal makan, bagaimana cara memakai seragam, bagaimana cara menjadi murid yang baik (hormati guru, sayangi teman) dan segala tetek bengek artifisial yang ditamengi proses b...

Mengapa Kita Selfie?

Mengapa Kita Selfie?* Investigasi Psikologi Eksistensial dan Psikoanalisis Radikal Oleh Wahyu Budi Nugroho Tentang “Diri Yang Hilang” Tulisan ini berawal dari satu tesis mengenai “diri yang hilang”. Pengertian “diri yang hilang” sebagaimana dimaksudkan di sini sama sekali tak berkaitan dengan kooptasi struktur, sistem, atau semacamnya; melainkan berada di ranah psikologis dan menyangkut peristilahan subjectum dengan subjectus (subyek aktif dan subyek pasif). Lebih jauh, tesis “diri yang hilang” juga tak serta-merta dapat dikaitkan dengan diri yang teralienasi secara biologis—tubuh ( sema) adalah kuburan jiwa (soma ): hidup adalah keterasingan panjang. “Diri yang hilang” di sini mengakui kesatuan jiwa dan raga, kesatuan emosi dan biologis, juga kesatuan pikiran dengan perbuatan. Namun kenyataannya, betapa sering kita kehilangan “diri” ini dan secara sadar maupun tak sadar menciptakan mekanisme tersendiri untuk mempertahankan eksistensinya, baik yan...

Dual Delusi

ADA SETAN BERKELIARAN DI INDONESIA! Setan kabar merampot. Media massa mainstream secara umum mendefinisikanya sebagai hoax, Sesuai dengan perbendaharaan kata yang muncul dalam kamus Bahasa Inggris versi Merriem Webster yang berarti: Sebuah perbuatan yang bertujuan mengelabui atau membohongi dan menjadikan sesuatu sebagai kebenaran umum melalui fabrikasi dan kebohongan yang disengaja.   Setan itu berkeliaran dimana-mana, ia menyelinap diantara surat rekomendasi negara donor, juga menggedor pintu penguasa dan menyusuri lorong-lorong kawasan kumuh berbau comberan. ia mengisi awal tahun dengan ekspektasi langitan dan menutup akhir tahun dengan akumulasi kedengkian. Membawa angin pengetahuan yang (pura-pura) mencerahkan dan lebih banyak borok pembodohan. Kegeraman terhadap setan itu menjadi semakin kompleks dengan daya jangkau dan kecepatan penyebaranya melebihi kemampuan pemerintah dalam memperbaiki jalanan rusak. Semua kekuasaan berintegrasi dan berikrar dalam aliansi kerama...