Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2026

Genealogi Patah Hati

                                      ilustrasi: dread.jpg Seseorang pernah percaya bahwa hidup dapat disusun seperti sebuah bangunan argumentasi: Premis yang jelas, langkah yang runtut dan kesimpulan yang masuk akal. Bahwa pendidikan adalah jalan, kerja adalah kelanjutan dan stabilitas adalah tujuan yang pada akhirnya akan tercapai jika semua dijalankan dengan benar. Namun keyakinan semacam itu hanya bertahan sejauh hidup tidak menginterupsi retakanya sendiri. Pada titik tertentu, hidup tidak lagi bergerak sebagai satuan ukuran yang dapat dipahami, melainkan sebagai rangkaian keputusan yang diambil dalam kondisi yang tidak pernah sepenuhnya ideal. Di sana, rasionalitas kehilangan otoritasnya dan yang tersisa hanyalah pilihan pilihan yang tidak selalu dapat dibenarkan, tetapi tetap harus dijalani. Di antara reruntuhan itulah, seseorang mulai menyadari bahwa yang disebut sebagai “ja...

Peradaban di Bawah Cahaya Hitam: Membaca Blacklight dari Koil

Ada sesuatu yang selalu terasa sedikit mengganggu ketika mendengarkan musik Koil. Bukan sekadar karena gitar mereka berat atau karena ritme elektroniknya bergerak seperti mesin yang tidak pernah lelah, tetapi karena ada sensasi aneh yang sulit dijelaskan dengan bahasa biasa. Seperti berdiri terlalu lama di satu tempat dan tiba-tiba menyadari bahwa lantai di bawah kaki sebenarnya perlahan bergerak. Ketidaknyamanan itu bukan datang dari suara, melainkan dari sesuatu yang akrab. Musik Koil tidak asing. Ia terlalu dekat. Terlalu mirip dengan sesuatu yang kita jalani setiap hari tapi jarang kita beri nama. Ia tidak menawarkan dunia lain, tidak memberi jarak aman, melainkan menarik kita lebih dalam ke sesuatu yang sebenarnya sudah kita huni sejak lama. Sejak era Megaloblast, Koil sudah membangun lanskap sonik yang terasa seperti ruang tertutup yang panjang dan tanpa ujung. Dunia yang mereka ciptakan bukan ruang terbuka penuh kemungkinan, melainkan koridor beton yang hanya punya satu arah: Ma...

Gizi, Statistik dan Bau Tengik Kekuasaan

ilustrasi: nobodycorp Entah kemana kemuakan ini menuju setiap kali negara berbicara tentang makanan bergizi dengan intonasi moral narsistik. Program Makan Bergizi Gratis dipoles sebagai tonggak kepedulian sosial, sebuah proyek besar yang konon akan menyelamatkan masa depan bangsa melalui piring-piring nasi yang dibagikan kepada anak-anak sekolah. Kata-kata resmi pemerintah terdengar sakral: negara hadir, gizi diperbaiki, generasi muda diselamatkan. Namun semakin sering narasi itu diulang, semakin jelas bahwa yang kita saksikan bukanlah kepedulian, melainkan pertunjukan pencitraan moral mega kolosal, alat propaganda yang dibungkus retorika teknokratis dan angka-angka anggaran yang fantastis. Di balik piring-piring itu, ada kebohongan halus yang menyelimuti struktur sosial yang tetap timpang. Sebagai seorang chef, aku mengenal makanan dengan semua tetek bengek dibelakangnya. Makanan bukan sekadar sumber gizi; ia adalah simpul jaringan sosial, rantai kerja, politik kepemilikan...

Catatan dari Pinggir Api

Ilustrasi oleh Lauvdahl Manusia selalu menyukai cerita yang sistematis. Cerita yang bergerak seperti garis lurus di brosur universitas: seorang anak muda masuk kampus, belajar dengan tekun, lulus dengan toga yang disetrika sempurna, lalu berjalan menuju profesi yang dianggap pantas oleh masyarakat. Akademisi di satu sisi, pekerja kasar di sisi lain. Dunia pikiran dan dunia tangan dipisahkan seperti dua ruangan yang tidak boleh saling bersentuhan. Seolah-olah kehidupan manusia memang sebersih itu.  Namun kenyataan selalu berkata sebaliknya. Hidup lebih sering bergerak seperti lorong belakang kota: Sempit, penuh belokan, kadang berbau asap dan minyak panas. Tidak ada garis lurus, hanya jalan yang harus ditempuh sambil terus mencoba memahami ke mana sebenarnya kita sedang berjalan. Perjalananku sendiri dimulai di tempat yang sangat akrab dengan gagasan tentang keteraturan: Kampus, jurusan sosiologi. Di sana dunia tiba-tiba berhenti terlihat sebagai kumpulan peristiwa acak....