Ada sesuatu yang selalu terasa sedikit mengganggu ketika mendengarkan musik Koil. Bukan sekadar karena gitar mereka berat atau karena ritme elektroniknya bergerak seperti mesin yang tidak pernah lelah, tetapi karena ada sensasi aneh yang sulit dijelaskan dengan bahasa biasa. Seperti berdiri terlalu lama di satu tempat dan tiba-tiba menyadari bahwa lantai di bawah kaki sebenarnya perlahan bergerak. Ketidaknyamanan itu bukan datang dari suara, melainkan dari sesuatu yang akrab. Musik Koil tidak asing. Ia terlalu dekat. Terlalu mirip dengan sesuatu yang kita jalani setiap hari tapi jarang kita beri nama. Ia tidak menawarkan dunia lain, tidak memberi jarak aman, melainkan menarik kita lebih dalam ke sesuatu yang sebenarnya sudah kita huni sejak lama.
Sejak era Megaloblast, Koil sudah membangun lanskap sonik yang terasa seperti ruang tertutup yang panjang dan tanpa ujung. Dunia yang mereka ciptakan bukan ruang terbuka penuh kemungkinan, melainkan koridor beton yang hanya punya satu arah: Maju terus, tanpa pertanyaan. Namun di Blacklight, ada pergeseran yang terasa halus tapi signifikan. Jika sebelumnya musik mereka terdengar seperti kegelisahan yang masih mencari bentuk, di sini kegelisahan itu sudah menemukan bentuknya yang purna. Ia tidak lagi bergerak liar, tidak lagi mencoba keluar. Ia menetap. Seperti seseorang yang akhirnya berhenti mencari jalan keluar dari kota dan mulai menata hidup di dalamnya, meskipun tahu ada sesuatu yang salah dengan seluruh lanskap itu.
Jakarta sering kali dibungkus dengan narasi yang terlalu ambisius untuk dipercaya. Kota peluang pusat pergerakan jantung ekonomi. Imajinasi itu dijual dengan cukup agresif sehingga banyak orang lupa bahwa kota juga punya sisi lain yang jauh lebih banal dan melelahkan. Pembangunan yang tidak pernah selesai, jalanan yang nyaris selalu macet, ruang yang semakin sempit dan waktu yang terasa habis sebelum sempat dipahami. Kota menjadi terang penuh suara dan penuh aktivitas tetapi justru kehilangan sesuatu yang lebih mendasar: Rasa memiliki. Kamu bisa hidup lama di sana bekerja bergerak berinteraksi tapi tetap merasa seperti bagian yang tidak pernah benar-benar menyatu.
Di dapur semua narasi itu runtuh dengan cepat. Tidak ada waktu untuk percaya pada mitos kota besar ketika panas kompor terus menyengat kulit dan suara exhaust berputar seperti mesin yang tidak pernah diberi istirahat. Tiket order keluar satu per satu lalu bertumpuk lalu menjadi ritme yang tidak bisa ditolak. Tidak ada ruang untuk merenung ketika tangan harus terus bergerak ketika fokus tidak boleh pecah bahkan hanya untuk satu detik. Segalanya konkret, segalanya fisik. Dan justru di dalam ruang sempit yang panas itu kamu mulai memahami Jakarta dengan cara yang lebih jujur daripada semua narasi yang pernah kamu dengar di luar.
Apa yang ditulis Mark Fisher tentang kapitalisme sebagai sistem tanpa alternatif berhenti menjadi konsep dan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dekat dan melekat. Ia tidak hadir sebagai ide besar yang perlu diperdebatkan melainkan sebagai kebiasaan yang menempel di level keseharian. Ia menjadi jadwal kerja menjadi rasa lelah yang tidak pernah benar-benar selesai menjadi dorongan untuk terus bergerak bahkan ketika tidak ada lagi energi yang tersisa.
Fisher menyebut kondisi ini sebagai realisme kapitalis. Sebuah situasi di mana lebih mudah membayangkan akhir dunia daripada membayangkan akhir dari kapitalisme itu sendiri. Kota terus tumbuh, terus menelan ruang, terus menambah lapisan beton dan kaca seolah tidak ada titik henti yang mungkin. Kamu bisa melihat kerusakannya kamu bisa merasakan tekanannya tapi tetap ada dorongan untuk menganggap semua itu sebagai sesuatu yang normal sesuatu yang tidak bisa dihindari.
Di dapur gagasan itu tidak perlu dijelaskan. Ia terjadi setiap hari. Kamu tahu ritme kerja ini menguras energi, tahu bahwa tubuhmu tidak didesain untuk berdiri selama itu, untuk bergerak secepat itu dan untuk menahan tekanan terus-menerus. Tapi kamu tetap melakukannya. Bukan karena kamu percaya pada sistem itu melainkan karena sistem itu sudah membentuk batas dari apa yang bisa kamu bayangkan sebagai hidup yang mungkin. Di titik ini kelelahan bukan lagi sekadar kondisi fisik. Ia menjadi struktur yang mengatur cara kamu hidup tanpa perlu terlihat sebagai aturan.
Yang membuatnya lebih halus sekaligus lebih laten adalah bahwa sistem ini tidak selalu terasa seperti paksaan. Ia sering datang sebagai ambisi. Sebagai standar. Sebagai keinginan untuk menjadi lebih baik, lebih cepat dan lebih efisien. Semua itu terdengar positif tetapi perlahan menggeser cara kita memandang diri sendiri. Nilai seseorang tidak lagi diukur dari keberadaannya melainkan dari seberapa banyak ia bisa menghasilkan dan seberapa lama ia bisa bertahan tanpa runtuh.
Di sinilah kemudian gagasan Zizek terasa bekerja dengan cara yang lebih mengganggu. Ideologi tidak lagi memaksa kita untuk percaya secara naif. Kita tahu sistem ini bermasalah. Kita sadar bahwa ritme ini melelahkan. Kita bahkan bisa mengkritiknya dengan cukup tajam. Tapi semua kesadaran itu tidak menghentikan kita untuk tetap menjalaninya. Ada jarak yang aneh antara mengetahui dan melakukan. Kita tahu tapi kita tetap bergerak.
Di dapur kegelisahan itu terasa sangat konkret. Kamu bisa mengeluh tentang jam kerja yang panjang tentang tekanan yang tidak manusiawi tentang standar yang kadang tidak masuk akal. Tapi ketika service dimulai semua itu hilang. Tubuh kembali ke ritme. Tangan bergerak otomatis. Pikiran menyempit hanya pada satu hal: Menyelesaikan pekerjaan secepat mungkin dan sebersih mungkin. Seolah-olah kesadaran tadi tidak pernah benar-benar punya kuasa.
Zizek menyebut ini sebagai sinisme ideologis. Kita tidak lagi tertipu oleh sistem tetapi tetap menjalankannya dengan disiplin yang hampir sempurna. Kita tahu ini permainan tapi keluar dari permainan terasa lebih tidak mungkin daripada terus berada di dalamnya.
Koil menangkap kondisi ini bukan dengan cara yang eksplisit, tetapi melalui atmosfer yang mereka bangun dengan konsisten. Mereka tidak tertarik menjadi band yang memamerkan kemampuan teknis atau kompleksitas yang mengundang kekaguman instan. Yang mereka lakukan justru sebaliknya: Mereduksi, mengulang, membangun tekanan secara perlahan. Gitar tidak hadir sebagai pusat perhatian, melainkan sebagai lapisan yang mengikis ruang secara bertahap. Ritme elektronik tidak mencoba menjadi dinamis, tetapi justru mempertahankan stabilitas yang dingin, seperti mesin yang bekerja tanpa perlu emosi. Dalam dunia ini, tidak ada ledakan yang membebaskan. Yang ada hanya akumulasi.
Vokal Otong Koil kemudian menjadi haram jadah yang memperjelas semuanya. Ia tidak terdengar seperti seseorang yang ingin meyakinkan atau membangkitkan semangat. Tidak ada urgensi untuk didengar, tidak ada usaha untuk menjadi heroik. Suaranya datar, terkadang seperti nyaris kehilangan intonasi, tetapi justru di situlah kekuatannya. Ia terdengar seperti seseorang yang sudah terlalu lama hidup di dalam sistem hingga kehilangan kebutuhan untuk bereaksi secara emosional. Ia tidak lagi berusaha melawan atau menghindar. Ia hanya mencatat. Dan catatan itu terasa jauh lebih mengganggu daripada teriakan.
Ideologi Zizekian kemudian terasa sangat relevan, meskipun kamu tidak perlu menyebutnya secara eksplisit untuk merasakannya. Kita tahu ada sesuatu yang tidak beres. Kita tahu ritme ini melelahkan dan sering kali tidak masuk akal. Tapi kita tetap menjalaninya, bahkan dengan tingkat efisiensi yang semakin tinggi. Kita tidak lagi membutuhkan paksaan. Sistem berjalan karena kita ikut menggerakkannya setiap hari. Dalam konteks ini, musik Koil tidak terasa seperti kritik dari luar. Ia terasa seperti suara dari dalam sistem itu sendiri.
'Kenyataan Dalam Dunia Fantasi' membuka album dengan cara yang hampir dramatis. Tidak ada build up besar, tidak ada usaha untuk memukau sejak awal. Lagu ini bergerak dengan stabil, dingin, seperti mesin yang baru dinyalakan sebelum kota benar-benar bangun. Ada sesuatu yang monoton dalam cara ritmenya berjalan, tetapi kemonotonan itu bukan kelemahan. Ia adalah pernyataan. Bahwa kehidupan yang dijanjikan penuh kemungkinan itu pada akhirnya sering kali jatuh ke pola yang sama, hari demi hari, tanpa banyak variasi yang berarti.
Judulnya sendiri seperti ironi yang tidak berusaha disembunyikan. Fantasi tentang mobilitas, kebebasan, kreativitas, semua itu terdengar meyakinkan dari luar. Tapi ketika dijalani, kenyataannya jauh lebih mekanis. Di dapur, fantasi itu tidak pernah benar-benar punya tempat. Yang ada hanya waktu yang harus dikejar, koordinasi yang tidak boleh gagal dan tubuh yang perlahan menyesuaikan diri dengan tekanan yang terus berulang. Tidak ada momen epifani besar. Tidak ada pembebasan mendadak. Hanya kontinuitas.
'Semoga Kau Sembuh' memperlambat ritme, tetapi bukan untuk memberi kenyamanan. Lagu-lagu ini terasa seperti jeda setelah service panjang, ketika dapur mulai kosong tapi panasnya masih tertinggal di udara. Tubuh mulai menyadari lelah yang sebelumnya tertahan. Pikiran mulai punya ruang untuk bergerak, tapi tidak selalu ke arah yang menyenangkan. Ada keheningan, tetapi keheningan itu penuh dengan sisa-sisa tekanan yang belum benar-benar hilang.
Kalimat 'semoga kau sembuh' dalam konteks ini terdengar hampir seperti gestur yang kehilangan kepastian. Sembuh dari apa dan menuju kondisi seperti apa? Jika luka yang dialami bukan sekadar fisik, tetapi juga ritme hidup yang terus berulang tanpa jeda yang cukup, maka penyembuhan menjadi sesuatu yang sulit didefinisikan. Ia tidak lagi berarti kembali ke kondisi normal, karena “normal” itu sendiri sudah bermasalah sejak awal. Yang tersisa hanyalah harapan kecil yang diucapkan tanpa benar-benar yakin bahwa ia bisa terwujud.
Pada akhirnya, kekuatan Blacklight tidak terletak pada apa yang ia tawarkan, tetapi pada apa yang ia tolak untuk tawarkan. Tidak ada pelarian. Tidak ada solusi. Tidak ada ilusi bahwa segala sesuatu bisa diperbaiki dengan satu momen kesadaran atau satu tindakan besar. Album ini hanya memperlihatkan lanskap yang sudah kita kenal, tetapi dengan kejujuran yang sulit dihindari. Kota sebagai organisme yang terus bergerak. Sistem sebagai mesin yang tidak pernah berhenti dan manusia sebagai bagian kecil yang belajar menyesuaikan diri, bahkan ketika penyesuaian itu perlahan mengikis dirinya sendiri dari dalam.
Di dapur, kesadaran itu tidak datang sebagai pemikiran besar. Melainkan sebagai akumulasi kecil yang terus bertambah. Gerakan yang diulang, kesalahan yang diperbaiki, dan kelelahan yang ditunda. Dari luar, semuanya terlihat hidup, produktif dan mengagumkan. Tapi dari dalam, semuanya terasa seperti mekanisme yang berjalan sendiri, tanpa benar-benar membutuhkan makna untuk terus berfungsi.
Yang paling mengganggu kemudian bukanlah kenyataan bahwa sistem ini dingin tak berperasaan. Bukan juga bahwa kota ini terasa semakin asing. Yang paling mengganggu adalah betapa mudahnya kita beradaptasi. Betapa cepatnya kita menerima ritme itu sebagai sesuatu yang normal. Sampai pada titik di mana kita tidak lagi benar-benar membayangkan kemungkinan berbeda. Besok kita tetap datang. Bukan karena kita percaya, tapi karena kita sudah terlalu terbiasa untuk berhenti mempertanyakan. Atau mungkin karena kita sudah menjadi bagian dari apa yang dulu kita curigai.

Komentar
Posting Komentar