Kredit ilustrasi: Lauvdahl Belakangan ini pulang kerja dengan perasaan yang sulit dijelaskan selain dengan satu kata yang terdengar sederhana tetapi sebenarnya cukup berat: Muak. Bukan karena ada satu kejadian besar yang membuat saya ingin membanting sesuatu, bukan pula karena satu orang tertentu yang tiba-tiba menjadi sumber segala kesialan hidup, melainkan semacam kejengkelan yang menyebar pelan-pelan ke hampir semua hal, seperti minyak yang tumpah di lantai dapur dan baru terasa keberadaannya ketika outsole sepatu mulai kehilangan grip. Rumah tidak sepenuhnya terasa sebagai tempat pulang, pekerjaan tidak lagi selalu terasa sebagai sesuatu yang menyenangkan, bahkan hal-hal kecil yang biasanya dapat saya lewati begitu saja mendadak memiliki bobot yang aneh. Ponsel yang terus berbunyi, orang yang bertanya sesuatu ketika kepala sedang penuh, barang yang tidak dikembalikan ke tempatnya, pekerjaan yang seharusnya selesai tetapi muncul lagi dalam bentuk lain, tubuh yang ingin tidur sementa...
Kredit ilustrasi: nobodycorp Beberapa hari menjelang 17 Agustus, bendera mulai muncul di mana-mana. Ia menggantung di depan rumah, menempel di pagar, berkibar dari tiang bambu atau terselip di antara spion motor yang membawa seseorang berangkat kerja pagi-pagi. Merah putih kembali menjadi warna resmi bulan ini, seperti yang selalu terjadi setiap tahun. Anak-anak mulai berlatih baris-berbaris, pengeras suara kampung mengumumkan perlombaan dan para pejabat kembali berbicara tentang persatuan, perjuangan serta masa depan bangsa. Negara tampak baik-baik saja. Tetapi mungkin justru ketika sebuah negara terlalu sibuk meyakinkan kita bahwa semuanya baik-baik saja, kita perlu sedikit memperhatikan suara-suara kecil yang terdengar dari bawahnya. Di warung kopi, pembicaraan tentang Indonesia biasanya jauh lebih sederhana daripada pidato kenegaraan. Orang membicarakan harga bahan makanan, pekerjaan, cicilan, sekolah anak atau gaji yang terasa semakin cepat habis. Sesekali nama presiden diseb...