Kredit ilustrasi: dread.jpg Saya selalu curiga terhadap lagu-lagu yang terdengar romantis tetapi menyisakan rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan. Slow Hands milik Interpol adalah salah satunya. Di permukaan, ia tampak seperti lagu tentang hasrat, kehilangan dan hubungan yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Namun setiap kali mendengarkannya, saya justru merasa sedang mendengar sesuatu yang lebih besar daripada sekadar kisah dua orang yang gagal mempertahankan cinta. Lagu ini terdengar seperti elegi bagi manusia modern yang perlahan kehilangan kemampuannya untuk hadir dalam dunia yang ia bangun sendiri. Kita hidup dalam masyarakat yang terus berbicara tentang kebebasan individu, pilihan personal dan pencapaian diri. Tetapi semakin lama saya hidup, semakin terasa bahwa sebagian besar pilihan yang kita anggap personal sebenarnya telah ditentukan jauh sebelumnya oleh struktur yang tidak kita pilih. Kita memilih pekerjaan karena harus membayar tagihan. Kita memilih tempat tingg...
Ilustrasi: dread.jpg Ada musik yang bekerja seperti peristiwa. Meledak, meninggalkan bekas, lalu perlahan menjadi kenangan. Ada juga musik yang bahkan gagal menjadi peristiwa, tidak cukup keras untuk mengubah apa pun, tidak cukup lembut untuk menghibur. In Inertia hidup di wilayah itu, wilayah yang tidak tercatat karena tidak pernah benar-benar 'terjadi'. Mendengarkannya terasa seperti menyadari bahwa waktu tetap berjalan meski tidak ada yang penting berlangsung. Dalam ekosistem yang mengharuskan setiap proyek memiliki wajah, cerita dan posisi yang bisa dipasarkan, In Inertia memilih jalan yang berbeda dengan menghilang sebelum sempat dikenali. Tidak ada narasi heroik, tidak ada arsip yang bisa disusun menjadi kronologi. Mereka menolak untuk menjadi subjek dan sebagai gantinya, hanya meninggalkan objek yang bahkan tidak sepenuhnya hadir. Ketiadaan identitas ini bukan sekadar estetika anonim yang sudah sering dipakai untuk terlihat misterius. Ini lebih dekat ke pengosongan, se...