Kredit ilustrasi: nobodycorp Beberapa hari menjelang 17 Agustus, bendera mulai muncul di mana-mana. Ia menggantung di depan rumah, menempel di pagar, berkibar dari tiang bambu atau terselip di antara spion motor yang membawa seseorang berangkat kerja pagi-pagi. Merah putih kembali menjadi warna resmi bulan ini, seperti yang selalu terjadi setiap tahun. Anak-anak mulai berlatih baris-berbaris, pengeras suara kampung mengumumkan perlombaan dan para pejabat kembali berbicara tentang persatuan, perjuangan serta masa depan bangsa. Negara tampak baik-baik saja. Tetapi mungkin justru ketika sebuah negara terlalu sibuk meyakinkan kita bahwa semuanya baik-baik saja, kita perlu sedikit memperhatikan suara-suara kecil yang terdengar dari bawahnya. Di warung kopi, pembicaraan tentang Indonesia biasanya jauh lebih sederhana daripada pidato kenegaraan. Orang membicarakan harga bahan makanan, pekerjaan, cicilan, sekolah anak atau gaji yang terasa semakin cepat habis. Sesekali nama presiden diseb...
Kredit ilustrasi: dread.jpg Saya selalu curiga terhadap lagu-lagu yang terdengar romantis tetapi menyisakan rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan. Slow Hands milik Interpol adalah salah satunya. Di permukaan, ia tampak seperti lagu tentang hasrat, kehilangan dan hubungan yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Namun setiap kali mendengarkannya, saya justru merasa sedang mendengar sesuatu yang lebih besar daripada sekadar kisah dua orang yang gagal mempertahankan cinta. Lagu ini terdengar seperti elegi bagi manusia modern yang perlahan kehilangan kemampuannya untuk hadir dalam dunia yang ia bangun sendiri. Kita hidup dalam masyarakat yang terus berbicara tentang kebebasan individu, pilihan personal dan pencapaian diri. Tetapi semakin lama saya hidup, semakin terasa bahwa sebagian besar pilihan yang kita anggap personal sebenarnya telah ditentukan jauh sebelumnya oleh struktur yang tidak kita pilih. Kita memilih pekerjaan karena harus membayar tagihan. Kita memilih tempat tingg...