Langsung ke konten utama

Postingan

Catatan dari Pinggir Api

Ilustrasi oleh Lauvdahl Manusia selalu menyukai cerita yang sistematis. Cerita yang bergerak seperti garis lurus di brosur universitas: seorang anak muda masuk kampus, belajar dengan tekun, lulus dengan toga yang disetrika sempurna, lalu berjalan menuju profesi yang dianggap pantas oleh masyarakat. Akademisi di satu sisi, pekerja kasar di sisi lain. Dunia pikiran dan dunia tangan dipisahkan seperti dua ruangan yang tidak boleh saling bersentuhan. Seolah-olah kehidupan manusia memang sebersih itu. Namun kenyataannya selalu berkata sebaliknya. Hidup lebih sering bergerak seperti lorong belakang kota: sempit, penuh belokan, kadang berbau asap dan minyak panas. Tidak ada garis lurus, hanya jalan yang harus ditempuh sambil terus mencoba memahami ke mana sebenarnya kita sedang berjalan. Perjalananku sendiri dimulai di tempat yang sangat akrab dengan gagasan tentang keteraturan: kampus, jurusan sosiologi. Di sana dunia tiba-tiba berhenti terlihat sebagai kumpulan peristiwa acak. I...
Postingan terbaru

Sartre dalam Dying of Thirst

Yang paling mengganggu tentang Marx sebenarnya bukan pada hujatannya pada agama. Dapat dilihat dari kacamata kondisi objektif pada saat itu dimana agama memang dipakai untuk mengilusi, dalam istilah Marx, kekuatan ‘proletariat'. Namun teorinya tentang kediktatoran proletariat adalah sesuatu yang menyesakkan untuk bisa menyepakati klaim Marx bahwa sosialisme nya adalah sosialisme ilmiah.  Marx memang mendapatkan poin sampai pada titik kesimpulan yang disepakati oleh banyak pihak bahwa dunia bisa diubah. “Man makes his own history”, manusia membuat perjalanan sejarahnya sendiri, ia dapat mengubah alam sekitarnya sedemikian rupa agar ia dapat hidup. Ia menyatakan bahwa diperlukan dasar materialis atas penulisan sejarah dimana pada saat itu ia pun ‘menemukan’ cara membaca sejarah berdasarkan pengetahuan tentang hukum-hukum objektif perkembangan masyarakat. Sebagai seorang analis perkembangan sejarah, Marx diakui sangat berpengaruh. Sebelum teorinya muncul, sejarah ...

Virus Corona: Pandemik Yang Membongkar Busuknya Kapitalisme

Corona, telah ditetapkan sebagai pandemik pada Maret 2020 oleh Organisasi Kesehatan Dunia. Corona, atau yang disebut (Corona Virus Disease) COVID-19 merupakan singkatan dari kata ‘corona’, ‘virus’, dan ‘disease’. Angka 19 yang ada di belakangnya mewakili tahun 2019 saat virus itu pertama kali diidentifikasi. Covid-19 diketahui dapat dengan mudah menyebar melalui tetesan/ percikan cairan dari batuk atau bersin penderitanya. Virus ini mengakses sel inang melalui enzim pengonversi angiotensin 2 (ACE2). ACE2 ditemukan di berbagai organ tubuh, tetapi paling banyak terdapat di sel-sel alveolar tipe II paru-paru. Corona menyebabkan sindrom pernafasan akut yang parah. Orang yang tertular biasanya mengalami gejala ringan dan berat, diantaranya demam, batuk kering, kelelahan, dan sesak napas. Sakit tenggorokan, pilek, atau bersin. Sedangkan beberapa dapat berkembang menjadi pneumonia dan kegagalan multi-organ yang mengakibatkan penderita meninggal. Setiap harinny...

Aku Tahu, Meski Aku Takkan Menang

                      sumber ilustrasi: lauvdahl Masih ingatkah kau saat pertama kali menghirup udara beroksidasi?  Saat pertama kali kau menyadari tuhan tak bersemayam diantara celoteh moron bersorban?  Ini adalah retrospektif yang membuatmu jauh dari almanak Hingga oplosan intisari dan ayat kursi yang habis kau lumat diujung penat, menyadarkan usiamu yang sudah seperempat abad Satu yang ku harap serupa pelita dalam gulita Dikala omong kosong hidup datang menggurita Fajar memaksa peluh menunda murka Resonansi yang sama memuakkan dengan membuat pilihan tak diberi tuhan tuk bebas dari setan Halilintar, pelangi dan embun pagi yang berjanji menyayat nadi sore ini Beraliansi dengan api kalam yang kan bertarung sampai seribu tahun pasca ku harakiri Bernazar pada hujan, kumpulan terbuang yang berhutang jalan pedang pada hidup yang tak bertuan  Serupa palagan yang dilupakan zaman macam luka tikam Sawin di depan m...

Tentang Seonggok Daging Penagih Tanda Tangan

Rocker juga manusia bukan? Andai Che Guevara masih hidup dan sedang menyelesaikan skripsinya di salah satu Universitas di Indonesia, ia akan mengeluh seperti ini. Aku lebih suka perjuangan yang berdarah-darah untuk merebut sesuatu yang sudah pasti transformatif. Perang gerilya di hutan belantara yang lembab, dimana setiap detiknya hidup terasa begitu dekat dengan kematian. Namun kami semua cukup berani tuk melawan atas nama solidaritas tuk menyudahi penindasan ini. Untuk itu semua aku lebih suka mengobati kamerad yang terluka atau sakit karena kejamnya realitas yang kami hadapi ketimbang mengobati diriku sendiri atas sakit paru-paru yang begitu tidak tahu diri datang disaat yang tidak dibutuhkan. Aku lebih suka itu semua ketimbang berjuang menjadi mahasiswa tingkat akhir dimana kampus beserta jejeran staf birokrasi mereduksi perjuangan mahasiswa menjadi sekedar kemampuan untuk pasrah menunggu berbagai hal yang tak pasti. Tanda tangan dosen pembimbing, urusan berkas administratif, dan ...

IKUT DEMO?

Pagi ini terasa sejuk sekali, cuaca sungguh mengerti bagaimana cara untuk memperlakukan mereka yang berurusan dengan kegiatan luar ruangan. Termasuk mahasiswa militan (baca: karbitan) untuk berdemo ria menuntut segala sesuatu pada negara tercinta ini. Temanku termasuk salah satunya, ia juga setengah memaksa agar aku turut serta 'menghitamkan' gedung DPRD kalbar seperti mahasiswa-mahasiswa kebanyakan. Ia bicara panjang lebar tentang kebobrokan pemerintah, negara, dan keharusan menjadi mahasiswa dengan suasana bicara seperti nabi yang sedang menjajakan surga. Hanya saja, aku tak sampai hati untuk menjelaskan sikap politikku untuk menolak ajakannya. Aku lebih memilih diam sambil menggelengkan kepala dan merespon dengan jawaban yang tidak masuk akal. Paling tidak trend demo ini membuatnya kembali hidup sebagai manusia setelah sebelumnya ia hanya mati segan hidup tak mau setelah semua perempuan membuatnya takut untuk mencintai. Aku tak sampai hati untuk merenggut semangatnya tuk be...

Merayakan Kematian Nalar

Selalu ada pertama kali untuk segala sesuatu. Cheran menjadi kota anarkis pertama di Mexico yang berhasil mengatur dirinya sendiri secara otonom tanpa bantuan pemerintah. Neil Amstrong manusia pertama yang berhasil mendarat di bulan. Tahun 2012 untuk pertama kalinya Canibus dibantai dengan sangat memalukan pada sebuah rap battle. Nietzsche filsuf pertama yang menelanjangi moralitas penganut Kristen eropa. Jerinx orang Indonesia pertama, yang secara massif, membuktikan bahwa musik, idealisme serta konsistensi memiliki daya pukul yang membuat simbiosa mutual oligarki dan Negara tak lebih bernilai dari kumpulan pandir bermodal. Dan untuk hal yang paling ajaib dalam hidup saya, untuk pertama kalinya saya sudi menonton debat capres. Sebuah kesadaran yang jarang sekali saya pikirkan mengingat betapa kotornya iklim politik di negeri ini. Kesadaran itu dipantik oleh seorang kawan, sebut saja Mawar, sore itu saat sedang membicarakan agenda ngumpul pada malam harinya. ‘’Nanti mal...