Langsung ke konten utama

Slow Hands Untuk Kita Yang Mengamati, Untuk Kita Yang Terasing


Kredit ilustrasi: dread.jpg 

Saya selalu curiga terhadap lagu-lagu yang terdengar romantis tetapi menyisakan rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan. Slow Hands milik Interpol adalah salah satunya. Di permukaan, ia tampak seperti lagu tentang hasrat, kehilangan dan hubungan yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Namun setiap kali mendengarkannya, saya justru merasa sedang mendengar sesuatu yang lebih besar daripada sekadar kisah dua orang yang gagal mempertahankan cinta. Lagu ini terdengar seperti elegi bagi manusia modern yang perlahan kehilangan kemampuannya untuk hadir dalam dunia yang ia bangun sendiri.

Kita hidup dalam masyarakat yang terus berbicara tentang kebebasan individu, pilihan personal dan pencapaian diri. Tetapi semakin lama saya hidup, semakin terasa bahwa sebagian besar pilihan yang kita anggap personal sebenarnya telah ditentukan jauh sebelumnya oleh struktur yang tidak kita pilih. Kita memilih pekerjaan karena harus membayar tagihan. Kita memilih tempat tinggal berdasarkan harga tanah yang terus naik. Kita memilih gaya hidup berdasarkan apa yang mampu kita beli. Bahkan cinta pun semakin sering tunduk pada logika pasar. Kita mencari pasangan seperti mencari produk dalam etalase marketplace. 

Membandingkan, menyaring, menilai, memnghakimi dan mengoptimalkan kemungkinan. Logika ekonomi telah merembes masuk ke ruang paling intim dalam kehidupan manusia.

Di sini kemudian penggalan lirik, "we spies, we slow hands" menjadi sesuatu yang jauh lebih politis daripada apa yang tampak di permukaan. Kita adalah mata-mata karena posisi kita dalam masyarakat modern memang semakin menyerupai pengamat. Kita mengamati hidup orang lain. Kita mengamati diri sendiri. Kita mengamati dunia yang terus bergerak tanpa kuasa apapun untuk mengubah arahnya. 
Kita tahu harga rumah semakin tidak masuk akal. Kita tahu upah tertinggal dari biaya hidup. Kita tahu lingkungan hidup dirusak atas nama pertumbuhan ekonomi. Kita tahu kekayaan terkonsentrasi pada segelintir orang. Namun sebagian besar waktu kita hanya bisa menyaksikannya berlangsung dari balik layar ponsel.

Kapitalisme kontemporer menciptakan ilusi partisipasi sembari mengeliminasi partisipasi yang sesungguhnya. Kita diberi ruang untuk berkomentar tetapi bukan untuk menentukan. Kita boleh marah tetapi tidak boleh mengganggu jalannya mesin peradaban. Kita boleh memilih merek yang berbeda tetapi tidak boleh mempertanyakan mengapa hidup harus selalu diorganisasi melalui pasar. Demokrasi direduksi menjadi preferensi konsumsi. Politik direduksi menjadi manajemen. Warga negara direduksi menjadi konsumen.

Tidak mengherankan jika begitu banyak orang merasa lelah tanpa mengetahui sumber kelelahannya. Selama puluhan tahun, kapitalisme berhasil meyakinkan kita bahwa setiap kegagalan adalah masalah pribadi. Jika miskin, berarti kurang bekerja keras. Jika depresi, berarti kurang mampu mengelola diri. Jika kesepian, berarti kurang pandai membangun relasi. Semua persoalan sosial diterjemahkan menjadi kekurangan individual. Dengan cara ini, kapitalisme dibebaskan dari tanggung jawab dan yang bermasalah selalu individu.

Padahal apa yang disebut 'krisis kesehatan mental' hari ini tidak bisa dilepaskan dari kondisi material tempat manusia hidup. Sulit berbicara tentang kebahagiaan ketika sebagian besar waktu kita dijual kepada pasar tenaga kerja. Sulit berbicara tentang kesehatan psikologis ketika masa depan semakin tidak pasti. Sulit berbicara tentang cinta ketika hubungan sosial terus dihancurkan oleh kompetisi dan individualisme. Seperti yang pernah ditulis Mark Fisher, gejala depresi sering kali diperlakukan sebagai kegagalan kimiawi dalam otak individu, padahal ia juga bisa dibaca sebagai respons yang sepenuhnya rasional terhadap masyarakat yang sakit.

Dalam konteks itu, Slow Hands terasa seperti soundtrack dari keterasingan yang diproduksi secara sistematis. Keterasingan yang dahulu dijelaskan Marx sebagai pemisahan manusia dari hasil kerjanya kini telah meluas ke hampir seluruh aspek kehidupan. Kita terasing dari pekerjaan, dari komunitas, dari alam, bahkan dari diri sendiri. Kita menghabiskan sebagian besar hidup untuk menjaga agar mesin ekonomi tetap berjalan, sementara makna hidup semakin sulit ditemukan. Kita terus bekerja untuk membeli waktu luang yang tidak sempat kita nikmati karena kelelahan.

Ketika Marx menulis tentang keterasingan pada abad ke-19, fokus utamanya adalah hubungan pekerja dengan proses produksi. Pekerja menciptakan barang, tetapi barang itu bukan miliknya. Semakin banyak ia bekerja, semakin besar dunia yang ia bangun untuk orang lain dan semakin kecil kendalinya atas hidupnya sendiri. Kerja menjadi aktivitas yang asing, sesuatu yang dilakukan bukan karena ia menemukan dirinya di dalamnya, melainkan karena ia harus menjual tenaganya agar dapat bertahan hidup.

Pemikiran Mark Fisher kemudian menjadi relevan, ia menunjukkan bahwa banyak penderitaan psikologis yang dianggap masalah pribadi sesungguhnya lahir dari kondisi sosial yang lebih luas. Kecemasan, depresi dan rasa hampa sering diperlakukan sebagai gangguan individual yang harus diselesaikan melalui terapi atau pengelolaan diri, padahal sebagian darinya merupakan respons terhadap dunia yang menuntut manusia terus beradaptasi dengan ketidakpastian, kompetisi dan tekanan performa yang tidak pernah berakhir. Jika Marx berbicara tentang pekerja yang kehilangan kendali atas apa yang ia hasilkan, maka Fisher berbicara tentang individu yang perlahan kehilangan kendali atas makna hidupnya sendiri.

Ironisnya, sistem yang menghasilkan keterasingan ini juga menjual berbagai produk untuk mengobatinya. Ketika kesepian meningkat, industri hiburan berkembang. Ketika kecemasan meningkat, aplikasi meditasi bermunculan. Ketika burnout menjadi epidemi, perusahaan menawarkan seminar motivasi. Setiap luka yang dihasilkan kapitalisme segera diubah menjadi pasar baru yang menguntungkan. Sistem ini tidak menyelesaikan masalah namun memonetisasi masalah.

Karena itu saya tidak mendengar Slow Hands sebagai lagu cinta. Saya mendengarnya sebagai lagu tentang kehidupan yang telah direbut dari manusia sedikit demi sedikit. Tentang dunia di mana kita semakin sering menjadi penonton atas nasib kita sendiri. Tentang masyarakat yang menghasilkan kekayaan luar biasa tetapi gagal menghasilkan rasa memiliki. Tentang manusia yang mampu mengirim pesan ke seluruh dunia dalam hitungan detik tetapi kesulitan menemukan solidaritas dengan tetangganya sendiri.

Mungkin itulah yang membuat lagu ini terasa relevan dua puluh tahun setelah dirilis. Bukan sekedar karena ia menjelaskan patah hati, melainkan karena ia menangkap pengalaman hidup di bawah horizon kapitalisme akhir: Perasaan bahwa sesuatu yang penting sedang hilang, bahwa kita dapat melihat kehilangan itu dengan sangat jelas, tetapi kita tidak lagi memiliki tangan-tangan yang cukup cekatan untuk meraihnya kembali.

Namun keterasingan dalam kapitalisme kontemporer tampaknya telah bergerak jauh melampaui pabrik yang dibayangkan Marx. Yang dijual hari ini bukan hanya tenaga kerja, tetapi juga perhatian, identitas, emosi, bahkan kepribadian. Media sosial mendorong individu untuk terus mengubah dirinya menjadi komoditas yang dapat dilihat, dinilai dan dipertukarkan. Kita tidak hanya bekerja untuk pasar, tetapi juga belajar melihat diri sendiri melalui logika pasar. Nilai diri semakin sering diukur melalui produktivitas, visibilitas dan kemampuan bersaing. Akibatnya, manusia tidak lagi sekadar terasing dari hasil kerjanya. Ia juga terasing dari pengalaman hidupnya sendiri.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak Ada yang Terjadi dan Itu Intinya: Catatan untuk In Inertia

Ilustrasi: dread.jpg   Ada musik yang bekerja seperti peristiwa. Meledak, meninggalkan bekas, lalu perlahan menjadi kenangan. Ada juga musik yang bahkan gagal menjadi peristiwa, tidak cukup keras untuk mengubah apa pun, tidak cukup lembut untuk menghibur. In Inertia hidup di wilayah itu, wilayah yang tidak tercatat karena tidak pernah benar-benar 'terjadi'. Mendengarkannya terasa seperti menyadari bahwa waktu tetap berjalan meski tidak ada yang penting berlangsung. Dalam ekosistem yang mengharuskan setiap proyek memiliki wajah, cerita dan posisi yang bisa dipasarkan, In Inertia memilih jalan yang berbeda dengan menghilang sebelum sempat dikenali. Tidak ada narasi heroik, tidak ada arsip yang bisa disusun menjadi kronologi. Mereka menolak untuk menjadi subjek dan sebagai gantinya, hanya meninggalkan objek yang bahkan tidak sepenuhnya hadir. Ketiadaan identitas ini bukan sekadar estetika anonim yang sudah sering dipakai untuk terlihat misterius. Ini lebih dekat ke pengosongan, se...

Catatan dari Pinggir Api

Ilustrasi oleh Lauvdahl Manusia selalu menyukai cerita yang sistematis. Cerita yang bergerak seperti garis lurus di brosur universitas: seorang anak muda masuk kampus, belajar dengan tekun, lulus dengan toga yang disetrika sempurna, lalu berjalan menuju profesi yang dianggap pantas oleh masyarakat. Akademisi di satu sisi, pekerja kasar di sisi lain. Dunia pikiran dan dunia tangan dipisahkan seperti dua ruangan yang tidak boleh saling bersentuhan. Seolah-olah kehidupan manusia memang sebersih itu.  Namun kenyataan selalu berkata sebaliknya. Hidup lebih sering bergerak seperti lorong belakang kota: Sempit, penuh belokan, kadang berbau asap dan minyak panas. Tidak ada garis lurus, hanya jalan yang harus ditempuh sambil terus mencoba memahami ke mana sebenarnya kita sedang berjalan. Perjalananku sendiri dimulai di tempat yang sangat akrab dengan gagasan tentang keteraturan: Kampus, jurusan sosiologi. Di sana dunia tiba-tiba berhenti terlihat sebagai kumpulan peristiwa acak....

Gizi, Statistik dan Bau Tengik Kekuasaan

ilustrasi: nobodycorp Entah kemana kemuakan ini menuju setiap kali negara berbicara tentang makanan bergizi dengan intonasi moral narsistik. Program Makan Bergizi Gratis dipoles sebagai tonggak kepedulian sosial, sebuah proyek besar yang konon akan menyelamatkan masa depan bangsa melalui piring-piring nasi yang dibagikan kepada anak-anak sekolah. Kata-kata resmi pemerintah terdengar sakral: negara hadir, gizi diperbaiki, generasi muda diselamatkan. Namun semakin sering narasi itu diulang, semakin jelas bahwa yang kita saksikan bukanlah kepedulian, melainkan pertunjukan pencitraan moral mega kolosal, alat propaganda yang dibungkus retorika teknokratis dan angka-angka anggaran yang fantastis. Di balik piring-piring itu, ada kebohongan halus yang menyelimuti struktur sosial yang tetap timpang. Sebagai seorang chef, aku mengenal makanan dengan semua tetek bengek dibelakangnya. Makanan bukan sekadar sumber gizi; ia adalah simpul jaringan sosial, rantai kerja, politik kepemilikan...