Langsung ke konten utama

Tidak Ada yang Terjadi dan Itu Intinya: Catatan untuk In Inertia


Ilustrasi: dread.jpg 



Ada musik yang bekerja seperti peristiwa. Meledak, meninggalkan bekas, lalu perlahan menjadi kenangan. Ada juga musik yang bahkan gagal menjadi peristiwa, tidak cukup keras untuk mengubah apa pun, tidak cukup lembut untuk menghibur. In Inertia hidup di wilayah itu, wilayah yang tidak tercatat karena tidak pernah benar-benar 'terjadi'. Mendengarkannya terasa seperti menyadari bahwa waktu tetap berjalan meski tidak ada yang penting berlangsung.


Dalam ekosistem yang mengharuskan setiap proyek memiliki wajah, cerita dan posisi yang bisa dipasarkan, In Inertia memilih jalan yang berbeda dengan menghilang sebelum sempat dikenali. Tidak ada narasi heroik, tidak ada arsip yang bisa disusun menjadi kronologi. Mereka menolak untuk menjadi subjek dan sebagai gantinya, hanya meninggalkan objek yang bahkan tidak sepenuhnya hadir.


Ketiadaan identitas ini bukan sekadar estetika anonim yang sudah sering dipakai untuk terlihat misterius. Ini lebih dekat ke pengosongan, semacam penarikan diri dari kebutuhan untuk diakui. Tidak ada figur untuk ditelusuri, tidak ada ego yang bisa diproyeksikan. Musiknya berdiri tanpa penopang personal, seperti struktur yang sengaja dibangun tanpa pondasi naratif.


Jika sebagian besar band bergerak melalui fase awal, perkembangan dan puncak maka In Inertia justru seperti berhenti di fase yang tidak pernah diberi nama. Rilisan mereka tidak terasa sebagai progres, melainkan sebagai variasi kecil dari keadaan yang sama. Bukan evolusi, tapi pengulangan yang sedikit bergeser, seperti bayangan yang berubah bentuk karena cahaya, bukan karena objeknya bergerak.


Judul-judul dari lagu mereka memberi kesan fragmen kesadaran yang tidak selesai diproses. Ada nuansa bahasa yang personal, tapi tidak pernah cukup terbuka untuk dipahami sebagai pengakuan. Seolah-olah ini adalah catatan yang seharusnya tetap tertutup, tapi entah bagaimana bocor ke ruang publik tanpa niat untuk menjelaskan dirinya.


Secara sonik, kita bisa meminjam kosa kata lama: Ambient, post-rock, minimalism. Tapi penggunaan istilah itu lebih seperti penanda arah daripada deskripsi yang akurat. Karena yang bekerja di sini bukan sekadar struktur atau tekstur, melainkan cara musik ini menunda fungsi yang biasanya kita harapkan dari bunyi. Di beberapa lapisan tertentu, samar-samar terasa bayangan dari My Bloody Valentine namun bukan sebagai distorsi yang meledak-ledak, melainkan sebagai kabut yang menghapus batas antara nada dan tekstur. Namun jika My Bloody Valentine masih menyisakan sensualitas dalam kebisingannya, In Inertia justru mengeringkannya hingga tinggal residu yang nyaris tanpa jejak.


Di sisi lain, cara mereka memperlakukan ruang dan durasi mengingatkan pada Sigur Rós, terutama dalam kecenderungan untuk meregangkan waktu hingga kehilangan arah. Tapi di titik ini pula jaraknya terlihat jelas: Jika Sigur Rós masih percaya pada kemungkinan transendensi, In Inertia tampak tidak tertarik membawa pendengarnya ke mana pun. Tidak ada dorongan menuju klimaks, tidak ada desain dramaturgi yang jelas. Jika sebagian besar musik adalah perjalanan, In Inertia adalah tempat singgah yang tidak pernah ditinggalkan. Mereka menetap di tengah, di antara awal dan akhir, tanpa keinginan untuk mengikat keduanya sebagai sebuah perjalanan menuju.


Piano dalam komposisi mereka tidak berbicara dalam kalimat utuh, melainkan dalam potongan yang menggantung. Ia tidak meminta resolusi, bahkan tidak memberi ilusi bahwa resolusi itu mungkin. Nada-nadanya seperti muncul karena kebutuhan minimal untuk ada, bukan karena dorongan ekspresif yang representatif. Gitar hadir sebagai tekstur impersonal. Ia tidak menuntut perhatian, tidak juga berusaha menjadi pusat. Kadang ia terasa seperti bayangan dari suara lain yang tidak pernah terdengar, semacam lapisan kedua yang keberadaannya hanya terasa jika kita berhenti mencari yang utama.


Ritme, jika bisa disebut demikian, tidak berfungsi sebagai penggerak. Ia lebih dekat ke denyut yang tidak stabil, cukup untuk menjaga sesuatu tetap hidup, tapi tidak cukup untuk membawa ke mana-mana. Ini bukan ritme yang mengarahkan, melainkan ritme yang mempertahankan. Yang menarik kemudian bukan apa yang mereka lakukan, tapi apa yang mereka pilih untuk tidak lakukan. Dalam musik yang lain, keheningan adalah alat untuk membangun tensi. Di sini, keheningan adalah kondisi dasar. Bunyi justru menjadi interupsi kecil terhadap diam yang lebih dominan.


Pendengar, yang terbiasa dipandu, tiba-tiba kehilangan pegangan. Tidak ada sinyal kapan harus merasa sesuatu, tidak ada momen yang secara jelas menandai perubahan. Ini menciptakan pengalaman yang tidak nyaman, bukan karena kompleksitas, tapi karena absennya struktur yang bisa dikenali. Dalam konteks ini, mendengarkan menjadi aktivitas yang lebih reflektif daripada reseptif. Kita tidak lagi menerima sesuatu yang sudah dibentuk, tapi berhadapan dengan ruang yang menuntut kita untuk mengisi atau memilih untuk tidak mengisi sama sekali.


Ada dimensi filosofis yang tidak eksplisit tapi terasa, semacam pertanyaan tentang kebutuhan kita terhadap makna. Mengapa kita selalu ingin sesuatu terjadi? Mengapa keheningan dianggap sebagai kekosongan, bukan sebagai bentuk keberadaan yang legit? In Inertia tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Mereka hanya menempatkannya di depan kita tanpa framing yang jelas. Ini membuat pengalaman mendengarkan terasa lebih seperti kontemplasi daripada konsumsi.


Dalam lanskap musik yang semakin cepat dan padat, di mana setiap detik diisi untuk mempertahankan perhatian, pendekatan seperti ini sungguh berani. Bukan karena ia melawan secara langsung, tapi karena ia menolak untuk ikut terlibat dalam logika yang sama.


Namun, ada juga paradoks di sini. Dengan menolak untuk berbicara, mereka tetap menghasilkan sesuatu yang harus didengar. Dengan menolak makna, mereka tetap membuka kemungkinan interpretasi. Ketidakhadiran itu sendiri menjadi bentuk kehadiran. Saya tidak akan mengatakan bahwa ini musik yang akan mengubah hidup seseorang. Bahkan, ada kemungkinan besar ia lewat begitu saja tanpa meninggalkan kesan yang bisa diartikulasikan. Tapi mungkin justru di situ letak nilainya. Ia tidak memaksa untuk diingat, tidak juga berusaha dilupakan. Ia hanya ada dalam bentuk yang paling minimal.


Di tengah dunia yang terus menuntut kita untuk merespon, untuk memberi opini, untuk menentukan posisi, pengalaman mendengarkan sesuatu yang tidak meminta apa-apa dari kita terasa sangat menenangkan. Karena pada akhirnya, yang kita hadapi bukan sekadar musik, tapi kemungkinan bahwa tidak semua hal perlu menjadi sesuatu yang lebih dari dirinya sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan dari Pinggir Api

Ilustrasi oleh Lauvdahl Manusia selalu menyukai cerita yang sistematis. Cerita yang bergerak seperti garis lurus di brosur universitas: seorang anak muda masuk kampus, belajar dengan tekun, lulus dengan toga yang disetrika sempurna, lalu berjalan menuju profesi yang dianggap pantas oleh masyarakat. Akademisi di satu sisi, pekerja kasar di sisi lain. Dunia pikiran dan dunia tangan dipisahkan seperti dua ruangan yang tidak boleh saling bersentuhan. Seolah-olah kehidupan manusia memang sebersih itu.  Namun kenyataan selalu berkata sebaliknya. Hidup lebih sering bergerak seperti lorong belakang kota: Sempit, penuh belokan, kadang berbau asap dan minyak panas. Tidak ada garis lurus, hanya jalan yang harus ditempuh sambil terus mencoba memahami ke mana sebenarnya kita sedang berjalan. Perjalananku sendiri dimulai di tempat yang sangat akrab dengan gagasan tentang keteraturan: Kampus, jurusan sosiologi. Di sana dunia tiba-tiba berhenti terlihat sebagai kumpulan peristiwa acak....

Gizi, Statistik dan Bau Tengik Kekuasaan

ilustrasi: nobodycorp Entah kemana kemuakan ini menuju setiap kali negara berbicara tentang makanan bergizi dengan intonasi moral narsistik. Program Makan Bergizi Gratis dipoles sebagai tonggak kepedulian sosial, sebuah proyek besar yang konon akan menyelamatkan masa depan bangsa melalui piring-piring nasi yang dibagikan kepada anak-anak sekolah. Kata-kata resmi pemerintah terdengar sakral: negara hadir, gizi diperbaiki, generasi muda diselamatkan. Namun semakin sering narasi itu diulang, semakin jelas bahwa yang kita saksikan bukanlah kepedulian, melainkan pertunjukan pencitraan moral mega kolosal, alat propaganda yang dibungkus retorika teknokratis dan angka-angka anggaran yang fantastis. Di balik piring-piring itu, ada kebohongan halus yang menyelimuti struktur sosial yang tetap timpang. Sebagai seorang chef, aku mengenal makanan dengan semua tetek bengek dibelakangnya. Makanan bukan sekadar sumber gizi; ia adalah simpul jaringan sosial, rantai kerja, politik kepemilikan...