Langsung ke konten utama

Gizi, Statistik dan Bau Tengik Kekuasaan


ilustrasi: nobodycorp

Ada sesuatu yang menimbulkan kemuakan setiap kali negara berbicara tentang makanan bergizi dengan intonasi moral narsistik. Program Makan Bergizi Gratis dipoles sebagai tonggak kepedulian sosial, sebuah proyek besar yang konon akan menyelamatkan masa depan bangsa melalui piring-piring nasi yang dibagikan kepada anak-anak sekolah. Kata-kata resmi pemerintah terdengar sakral: negara hadir, gizi diperbaiki, generasi muda diselamatkan. Namun semakin sering narasi itu diulang, semakin jelas bahwa yang kita saksikan bukanlah kepedulian, melainkan pertunjukan pencitraan moral mega kolosal, alat propaganda yang dibungkus retorika teknokratis dan angka-angka anggaran yang fantastis. Di balik piring-piring itu, ada kebohongan halus yang menyelimuti struktur sosial yang tetap timpang.

Sebagai seorang chef, aku mengenal makanan dengan semua tetek bengek dibelakangnya. Makanan bukan sekadar sumber gizi; ia adalah simpul jaringan sosial, rantai kerja, politik kepemilikan dan kekuasaan yang menentukan siapa yang layak makan dan siapa yang menunggu belas kasihan. Setiap butir nasi mengandung sejarah panjang eksploitasi pekerja, harga pasar yang menekan proletariat dan konsentrasi kekuasaan yang mengerikan. Ketika negara tiba-tiba tampil sebagai penyedia makanan utama, pertanyaannya bukan berapa banyak porsi yang dibagikan, melainkan bagaimana masyarakat bisa sampai pada titik di mana fungsi paling dasar (memberi makan anak) harus diserahkan kepada birokrasi yang penuh simbol moral tapi miskin substansi?

Bahasa kebijakan negara pecah di telinga. Kalori, menu seimbang, efisiensi distribusi. Rasionalitas modern yang dipuja-puja ini sungguh beracun. Habermas sudah menegaskan bahwa masyarakat modern dikuasai rasionalitas instrumental yang mereduksi persoalan sosial menjadi problem teknis. Kelaparan, dalam logika ini, bukan akibat ketimpangan struktural, melainkan kekurangan kalori yang bisa diatur melalui distribusi yang lebih efisien. Masalah politik diubah menjadi manajemen logistik. Semua pertanyaan mendasar tentang ketidakadilan ekonomi dan dominasi pasar dibungkam, diganti dengan retorika moral yang aman dan nyaman bagi penguasa.

Reduksi ini tentu saja tidak netral; ia adalah senjata ideologis yang halus. Dengan menyamakan kelaparan dengan persoalan logistik, negara mengalihkan perhatian dari struktur yang menciptakan ketimpangan. Upah rendah, harga pangan dikendalikan segelintir aktor ekonomi, distribusi pangan terkonsentrasi, semua itu menjadi bisu tak tersentuh. Kritik yang benar-benar membongkar sistem ditelan oleh narasi moral yang terus diulang: “Lihat, kami peduli, lihat betapa baiknya kami.” Kemuakan tumbuh bukan pada makanan, bukan pada anak-anak yang makan, tetapi pada absurditas yang memayungi logika moral ini.

Dan anggaran. Anggaran yang digelontorkan untuk program ini bukan sekadar nominal, ia adalah monumen kemunafikan. Puluhan hingga ratusan miliar rupiah mengalir dari kas negara, melewati birokrasi penuh simbol dan diubah menjadi piring-piring yang terlihat rapi di kantin sekolah. Angka-angka itu dipamerkan, dirayakan, menjadi bukti moral pemerintah, seolah pencapaian bangsa diukur dari jumlah rupiah dan porsi yang tersaji. Tapi setiap rupiah menutupi ketimpangan yang mendasari program itu sendiri. Dana yang bisa digunakan untuk memperbaiki rantai distribusi pangan, menaikkan upah pekerja, memperkuat infrastruktur lokal, justru dihabiskan untuk pertunjukan moral. Program makan gratis berubah menjadi pertunjukan fiskal yang menenangkan rasa bersalah birokrasi, sementara ketimpangan struktural tetap berjalan tanpa gangguan. Bagi yang mengenal bau minyak di dapur dan proses memasak, ketimpangan ini terasa seperti aroma tengik yang mengintai di balik kemegahan angka anggaran dan piring yang bersih.

Di sinilah ambivalensi program menjadi jelas. Memberi makan anak-anak adalah tindakan dasar moral yang tidak bisa dibantah siapapun dan benar dalam moralitas manapun. Tapi karena tindakan itu begitu mendasar, ia berubah menjadi alat legitimasi politik. Negara dapat tampil sebagai penyelamat, tanpa menyentuh struktur yang membuat penyelamatan itu diperlukan sejak awal. Anak-anak diberi makan, publik puas, citra pemerintah bersih, sementara akar masalah berupa ketidakadilan, distribusi yang timpang, upah rendah tetap utuh.

Adorno menegaskan bahwa ideologi modern jarang muncul sebagai kebohongan terang-terangan. Ia muncul tampak rasional, bahkan bermoral, dan justru karena itulah efektif. Program makan gratis tampak sebagai ekspresi kepedulian sosial, tapi berfungsi menenangkan publik, menjaga status quo dan menyembunyikan ketidakadilan. Simbol moral itu bekerja seperti minyak panas: semakin lama, semakin pekat, semakin tengik di dalamnya.

Di dunia dapur, transformasi makanan menjadi alat politik menghasilkan kemarahan yang sulit dijelaskan. Dapur adalah ruang konkret dan jujur. Bahan buruk, distribusi kacau dan tenaga kerja lelah akan langsung terlihat dalam hasil akhir. Tidak ada retorika moral yang bisa menutupi kegagalan; rasa pahit, tekstur yang gagal dan aroma hangus langsung menghukum setiap kesalahan. Di dapur negara, kegagalan nyata diganti dengan simbol moral, distribusi logistik dibungkus narasi kepedulian dan program makan gratis muncul sebagai pertunjukan etika publik. Kekuasaan belajar memasak empati dengan presisi tinggi, menghasilkan aroma citra moral yang menipu indera siapa pun yang tidak siap menelusuri struktur sosial di balik piring-piring itu.

Yang paling menohok dari kemuakan ini adalah kesadaran bahwa struktur sosial yang melahirkan ketimpangan tetap utuh. Tidak ada reformasi fundamental; tidak ada redistribusi kekuasaan atau sumber daya. Anggaran raksasa, yang seharusnya dapat menata rantai pangan, menaikkan upah, atau membangun kapasitas lokal, justru dihabiskan untuk pertunjukan moral yang menenangkan hati publik. Negara mengontrol narasi, menata foto anak-anak makan, mengulang mantra, sementara akar masalah tetap berjalan seperti jam mekanis yang dingin dan tak berperasaan. Keindahan simbolik menipu mata, tetapi bau tengik realitas tetap menusuk indera.

Foto anak-anak makan tersebar di media, tampak seperti bukti keberhasilan program, seperti mantra yang menenangkan hati gelisah. Tapi di balik foto-foto itu, realitas tetap tajam dan tidak tertutupi: ketimpangan tidak pernah pergi. Keluarga yang hidup di bawah tekanan harga pangan, sistem upah yang terjun bebas dan distribusi yang timpang tetap menunggu belas kasihan yang disulap menjadi piring gratis. Setiap rupiah anggaran yang digelontorkan tampak seperti tindakan heroik, padahal ia hanyalah manajemen rasa bersalah publik yang dibungkus retorika moral, mengubah derita nyata menjadi simbol yang bisa dikonsumsi dengan aman oleh mata media dan hati birokrat yang malas berpikir kritis.

Kemuakan yang muncul bukan lagi soal makanan itu sendiri, bukan soal anak-anak yang menerima bantuan, tapi tentang bagaimana tindakan dasar kemanusiaan ini direduksi menjadi bahasa kekuasaan hipokrit. Negara tidak memberi makan karena peduli, tetapi karena memberi makan adalah alat untuk menegaskan citra moralnya. Setiap piring nasi bukan sekadar nutrisi; ia adalah pesan terselubung bahwa pemerintah hadir, bahwa negara “baik hati” dan bahwa publik sebaiknya puas dan tidak bertanya lebih jauh. Ketika tindakan yang paling sederhana berubah menjadi instrumen legitimasi politik, kemuakan menjadi pengalaman inderawi: terasa di lidah, di hidung, bahkan di dalam dada yang menahan napas menonton absurditas ini.

Dapur negara bekerja berbeda dari dapur tempat aku menghabiskan hidup. Di dapur nyata, bahan buruk, distribusi kacau dan tenaga kerja lelah akan langsung terlihat dalam hasil akhir. Tidak ada retorika moral yang bisa menutupi kegagalan; rasa pahit, tekstur yang gagal, dan aroma tengik langsung menghukum setiap kesalahan. Di dapur negara, kegagalan nyata diganti dengan simbol moral, distribusi logistik dibungkus narasi kepedulian, dan program makan gratis muncul sebagai pertunjukan etika publik. Kekuasaan belajar memasak empati dengan presisi tinggi, menghasilkan aroma citra moral yang menipu indera siapa pun yang tidak siap menelusuri struktur sosial di balik piring-piring itu.

Yang paling tajam dari kemuakan ini adalah kesadaran bahwa struktur sosial yang melahirkan ketimpangan tetap utuh. Tidak ada reformasi fundamental; tidak ada redistribusi kekuasaan atau sumber daya. Anggaran raksasa, yang seharusnya dapat menata rantai pangan, menaikkan upah, atau membangun kapasitas lokal, justru dihabiskan untuk pertunjukan moral yang menenangkan hati publik. Negara mengontrol narasi, menata foto anak-anak makan, mengulang mantra moral, sementara akar masalah tetap berjalan seperti jam mekanik yang dingin dan tak berperasaan. Keindahan simbolik menipu mata, tetapi bau tengik realitas tetap menusuk indera.

Bagi siapa pun yang hidup di dapur dan mengenal rasa makanan, bau kontradiksi ini menjadi jelas, pekat dan tak tertahankan. Ia seperti minyak yang terlalu lama dipanaskan, semakin lama, semakin tengik, semakin memaksa sadar bahwa aroma harum hanyalah ilusi. Negara bisa memoles citra kepedulian dengan indah, menyebarkan foto dan statistik, memanipulasi moral publik, tapi kenyataan di balik piring, di balik angka anggaran dan di balik logika teknokratis tetap sama: ketimpangan berjalan tanpa gangguan, moralitas dipertontonkan, dan kemuakan publik menjadi alat baru bagi legitimasi kekuasaan.

Pada akhirnya, yang tersisa bukan rasa puas, bukan rasa bangga, melainkan kemuakan yang pekat, menempel di lidah, menusuk hidung dan merayap ke setiap inci sel. Publik dituntun untuk tersenyum melihat piring-piring bersih, untuk mengangguk pada angka-angka anggaran dan percaya pada keniscayaan bahwa kemajuan telah dihidangkan bersama sajian MBG hari ini. 

Tapi mereka tidak mencium kemunafikan yang menembus semua simbol itu, bau ketimpangan yang diam-diam menertawakan setiap retorika, setiap mantra moral dan setiap foto yang dipoles. Dalam diam, dalam absurditas ini, kita semua dihadapkan pada fakta bahwa kepedulian telah menjadi pertunjukan, perhatian telah dikemas menjadi anggaran dan moralitas hanyalah aroma palsu yang menutupi struktur yang sama sekali tidak berubah. Jika menghirupnya, kemuakan itu menular, masuk ke paru-paru dan tidak bisa dikeluarkan lagi. Menjadi pengingat bahwa apa yang tampak manusiawi mungkin hanyalah sebuah ilusi kejam dan yang tersaji bukan sekadar makanan, tetapi kebohongan pahit tak terhindarkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan dari Pinggir Api

Ilustrasi oleh Lauvdahl Manusia selalu menyukai cerita yang sistematis. Cerita yang bergerak seperti garis lurus di brosur universitas: seorang anak muda masuk kampus, belajar dengan tekun, lulus dengan toga yang disetrika sempurna, lalu berjalan menuju profesi yang dianggap pantas oleh masyarakat. Akademisi di satu sisi, pekerja kasar di sisi lain. Dunia pikiran dan dunia tangan dipisahkan seperti dua ruangan yang tidak boleh saling bersentuhan. Seolah-olah kehidupan manusia memang sebersih itu. Namun kenyataannya selalu berkata sebaliknya. Hidup lebih sering bergerak seperti lorong belakang kota: sempit, penuh belokan, kadang berbau asap dan minyak panas. Tidak ada garis lurus, hanya jalan yang harus ditempuh sambil terus mencoba memahami ke mana sebenarnya kita sedang berjalan. Perjalananku sendiri dimulai di tempat yang sangat akrab dengan gagasan tentang keteraturan: kampus, jurusan sosiologi. Di sana dunia tiba-tiba berhenti terlihat sebagai kumpulan peristiwa acak. I...

Sartre dalam Dying of Thirst

Yang paling mengganggu tentang Marx sebenarnya bukan pada hujatannya pada agama. Dapat dilihat dari kacamata kondisi objektif pada saat itu dimana agama memang dipakai untuk mengilusi, dalam istilah Marx, kekuatan ‘proletariat'. Namun teorinya tentang kediktatoran proletariat adalah sesuatu yang menyesakkan untuk bisa menyepakati klaim Marx bahwa sosialisme nya adalah sosialisme ilmiah.  Marx memang mendapatkan poin sampai pada titik kesimpulan yang disepakati oleh banyak pihak bahwa dunia bisa diubah. “Man makes his own history”, manusia membuat perjalanan sejarahnya sendiri, ia dapat mengubah alam sekitarnya sedemikian rupa agar ia dapat hidup. Ia menyatakan bahwa diperlukan dasar materialis atas penulisan sejarah dimana pada saat itu ia pun ‘menemukan’ cara membaca sejarah berdasarkan pengetahuan tentang hukum-hukum objektif perkembangan masyarakat. Sebagai seorang analis perkembangan sejarah, Marx diakui sangat berpengaruh. Sebelum teorinya muncul, sejarah ...