Langsung ke konten utama

Catatan dari Pinggir Api


Ilustrasi oleh Lauvdahl


Manusia selalu menyukai cerita yang sistematis. Cerita yang bergerak seperti garis lurus di brosur universitas: seorang anak muda masuk kampus, belajar dengan tekun, lulus dengan toga yang disetrika sempurna, lalu berjalan menuju profesi yang dianggap pantas oleh masyarakat. Akademisi di satu sisi, pekerja kasar di sisi lain. Dunia pikiran dan dunia tangan dipisahkan seperti dua ruangan yang tidak boleh saling bersentuhan.

Seolah-olah kehidupan manusia memang sebersih itu. Namun kenyataan selalu berkata sebaliknya. Hidup lebih sering bergerak seperti lorong belakang kota: Sempit, penuh belokan, kadang berbau asap dan minyak panas. Tidak ada garis lurus, hanya jalan yang harus ditempuh sambil terus mencoba memahami ke mana sebenarnya kita sedang berjalan.

Perjalananku sendiri dimulai di tempat yang sangat akrab dengan gagasan tentang keteraturan: Kampus, jurusan sosiologi. Di sana dunia tiba-tiba berhenti terlihat sebagai kumpulan peristiwa acak. Ia mulai tampak seperti sesuatu yang bisa dibaca, seperti teks besar yang tersusun dari struktur, relasi dan pola yang sering tidak terlihat oleh orang yang hidup di dalamnya.

Di ruang kelas itulah aku pertama kali berkenalan dengan nama-nama yang membuka pintu ke cara berpikir yang berbeda. Salah satunya tentu saja Marx, yang mengajarkan bahwa kerja bukan sekadar aktivitas ekonomi, tetapi pondasi dari bagaimana masyarakat dibangun. Bahwa di balik rutinitas sehari-hari yang tampak biasa terdapat relasi produksi, konflik kelas dan struktur kekuasaan yang membentuk kehidupan manusia.

Sejak saat itu dunia tidak pernah terlihat sederhana lagi. Teori kritis, tradisi kiri, hingga pemikiran posmodern menjadi semacam peta intelektual yang terus berkembang di kepalaku. Hal-hal yang dulu tampak biasa mulai memperlihatkan lapisan lain: Ideologi yang tersembunyi dalam bahasa sehari-hari, kekuasaan yang bekerja melalui kebiasaan dan kepentingan yang sering bersembunyi di balik kata-kata yang tampak manis.

Di kampus aku tidak pernah puas hanya menjadi mahasiswa yang datang, mencatat, lalu pulang. Diskusi harus hidup. Perdebatan harus berlangsung lebih lama daripada jadwal kuliah yang disediakan. Bersama beberapa teman, kami membentuk kelompok baca kecil yang sering berdiskusi hingga larut malam. Teks-teks berat yang biasanya hanya disentuh sekilas di kelas kami bongkar perlahan, dengan kesabaran ultra keras kepala.

Bagi kami, kampus bukan sekadar tempat mendapatkan nilai. Ia adalah altar masturbasi intelektual, katakanlah demikian. 

Aku juga aktif berorganisasi. Bukan karena romantisme aktivisme yang sering terlihat indah di poster-poster pergerakan, tetapi karena organisasi adalah tempat di mana teori bertemu dengan realitas manusia yang jauh lebih rumit. Di sana kita belajar satu hal sederhana: Ide yang terlihat seksi di atas kertas sering berubah bentuk ketika bertemu manusia dengan ego, kepentingan dan keterbatasannya sendiri.

Namun ada bagian lain dari hidupku selama masa kuliah yang jarang masuk dalam cerita akademik itu.

Selama kuliah, aku bekerja. Bukan pekerjaan yang romantis atau penuh simbolisme intelektual. Aku pernah menjadi tukang las, berdiri berjam-jam di depan percikan api logam. Bau besi panas dan suara gerinda menjadi soundtrack hari-hari yang panjang. Percikan kecil yang menyentuh kulit bukan metafora tentang perjuangan kelas. Ia benar-benar panas. Hari-hari di bengkel dimulai dengan suara logam beradu yang memekakkan telinga. Pagi bahkan belum sepenuhnya bangun ketika mesin gerinda sudah menyalak seperti serangga besi yang marah. Bau logam panas bercampur dengan oli dan debu besi yang menempel di udara. Udara di sana selalu terasa lebih berat, seolah paru-paru harus bekerja sedikit lebih keras hanya untuk bernapas.

Topeng las menutup wajah seperti visor prajurit. Begitu busur listrik menyala, dunia berubah menjadi kilatan putih yang menyilaukan. Cahaya itu begitu terang sampai terasa seperti matahari kecil yang lahir beberapa sentimeter dari tanganmu. Di balik topeng, pandangan menyempit hanya pada satu garis kecil logam cair yang harus dijaga tetap stabil. Menjadi tukang las bukan pekerjaan yang bergengsi, tentu saja. Ia adalah percakapan kasar antara panas, logam dan gemuruh mesin.

Di waktu lain aku bekerja di dapur profesional sebagai koki paruh waktu. Di sana waktu bergerak dengan cara yang berbeda. Ritme dapur bukan ritme kalender akademik yang tenang. Ia lebih mirip mesin yang terus berputar tanpa peduli siapa yang sedang lelah. Panci panas, pisau tajam, teriakan singkat antar koki dan rush hour yang terasa seperti medan tempur kecil setiap malam.

Sekilas dua dunia ini tampak sangat jauh dari buku-buku teori sosial. Namun justru di sanalah banyak gagasan yang dulu kubaca mulai menemukan relevansinya. Kerja bukan lagi sekadar konsep dalam buku. Ia adalah tubuh yang lelah, tangan yang terbakar bara api dan waktu yang diukur oleh target produksi. Ia adalah cara tubuh manusia dipaksa mengikuti ritme mesin yang lebih besar darinya. Dalam cara yang aneh, pengalaman itu justru membuat kajian teoritis terasa lebih hidup.

Ketika membaca tulisan-tulisan Marx tentang kerja dan produksi, aku tidak lagi membayangkannya sebagai abstraksi akademik. Aku mengingat bau logam yang terbakar di bengkel dan panas kompor dapur yang tidak pernah mati. Tubuh manusia benar-benar menjadi bagian dari sistem produksi yang lebih besar. Ironisnya, pengalaman kerja manual itu tidak menjauhkan aku dari teori. Ia justru membuat pemahaman teoretis terasa lebih tajam, lebih konkret, lebih sulit untuk diabaikan.

Setelah masa kuliah selesai, hidup tidak bergerak menuju menara gading akademik seperti yang mungkin dibayangkan sebagian orang. Dapur yang dulu hanya pekerjaan sambilan perlahan berubah menjadi dunia kerja utama. Pisau dapur menggantikan buku catatan. Kompor panas menggantikan ruang seminar. Waktu kerja restoran menggantikan jadwal kuliah yang dulu terasa begitu penting.

Namun pemikiran tidak pernah benar-benar berhenti. Di tengah panas dapur, teori sosial sering muncul kembali seperti bayangan lama. Hierarki dapur, disiplin kerja, tekanan produksi, solidaritas kasar antarpekerja semuanya terasa seperti versi konkret dari banyak konsep yang dulu dipelajari di kampus. Kadang aku menyadari sesuatu yang cukup sederhana, dunia kerja sebenarnya tidak membutuhkan bahasan teoritis untuk menjelaskan dirinya sendiri. Orang yang hidup di dalamnya sudah memahami banyak hal secara intuitif.

Tetapi teori memberi kita sesuatu yang berbeda. Ia memberi kita cara untuk membaca pengalaman itu sebagai bagian dari struktur yang lebih besar. Untuk melihat bahwa kelelahan, ritme kerja, hierarki, bahkan solidaritas kecil antar pekerja bukan sekadar peristiwa individual, tetapi bagian dari pola sosial yang lebih luas.

Tulisan ini lahir dari persimpangan itu.

Dari pengalaman seorang mahasiswa sosiologi yang dulu terlalu serius membaca buku dan seorang pekerja dapur yang setiap hari berhadapan dengan api.

Tulisan-tulisan di sini mungkin akan bergerak ke banyak arah. Kadang berbicara tentang kerja, kelas dan kehidupan modern. Kadang hanya berangkat dari pengalaman kecil di dapur lalu berkembang menjadi refleksi tentang masyarakat yang lebih luas. Tidak semua tulisan akan menawarkan jawaban. Sebagian mungkin hanya akan mengajukan pertanyaan yang tidak nyaman.

Namun ada satu hal yang perlahan kupelajari dari perjalanan ini: Perjuangan intelektual tidak selalu terjadi di ruang seminar atau jurnal akademik. Kadang ia berlangsung diam-diam di sela pekerjaan, di tengah rutinitas repetitif yang tampak biasa. Seseorang bisa berdiri di depan kompor panas sambil tetap memikirkan dunia dan mungkin justru dari tempat-tempat seperti itulah pemahaman tentang masyarakat menjadi lebih tajam. Karena teori tidak lagi berdiri sendirian. Ia ditempa oleh pengalaman hidup, oleh kerja, oleh kelelahan dan oleh keinginan sederhana untuk terus berpikir bahkan ketika dunia lebih suka kita berhenti bertanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gizi, Statistik dan Bau Tengik Kekuasaan

ilustrasi: nobodycorp Entah kemana kemuakan ini menuju setiap kali negara berbicara tentang makanan bergizi dengan intonasi moral narsistik. Program Makan Bergizi Gratis dipoles sebagai tonggak kepedulian sosial, sebuah proyek besar yang konon akan menyelamatkan masa depan bangsa melalui piring-piring nasi yang dibagikan kepada anak-anak sekolah. Kata-kata resmi pemerintah terdengar sakral: negara hadir, gizi diperbaiki, generasi muda diselamatkan. Namun semakin sering narasi itu diulang, semakin jelas bahwa yang kita saksikan bukanlah kepedulian, melainkan pertunjukan pencitraan moral mega kolosal, alat propaganda yang dibungkus retorika teknokratis dan angka-angka anggaran yang fantastis. Di balik piring-piring itu, ada kebohongan halus yang menyelimuti struktur sosial yang tetap timpang. Sebagai seorang chef, aku mengenal makanan dengan semua tetek bengek dibelakangnya. Makanan bukan sekadar sumber gizi; ia adalah simpul jaringan sosial, rantai kerja, politik kepemilikan...

Sartre dalam Dying of Thirst

Yang paling mengganggu tentang Marx sebenarnya bukan pada hujatannya pada agama. Dapat dilihat dari kacamata kondisi objektif pada saat itu dimana agama memang dipakai untuk mengilusi, dalam istilah Marx, kekuatan ‘proletariat'. Namun teorinya tentang kediktatoran proletariat adalah sesuatu yang menyesakkan untuk bisa menyepakati klaim Marx bahwa sosialisme nya adalah sosialisme ilmiah.  Marx memang mendapatkan poin sampai pada titik kesimpulan yang disepakati oleh banyak pihak bahwa dunia bisa diubah. “Man makes his own history”, manusia membuat perjalanan sejarahnya sendiri, ia dapat mengubah alam sekitarnya sedemikian rupa agar ia dapat hidup. Ia menyatakan bahwa diperlukan dasar materialis atas penulisan sejarah dimana pada saat itu ia pun ‘menemukan’ cara membaca sejarah berdasarkan pengetahuan tentang hukum-hukum objektif perkembangan masyarakat. Sebagai seorang analis perkembangan sejarah, Marx diakui sangat berpengaruh. Sebelum teorinya muncul, sejarah ...