Langsung ke konten utama

Postingan

Mengapa Kita Selfie?

Mengapa Kita Selfie?* Investigasi Psikologi Eksistensial dan Psikoanalisis Radikal Oleh Wahyu Budi Nugroho Tentang “Diri Yang Hilang” Tulisan ini berawal dari satu tesis mengenai “diri yang hilang”. Pengertian “diri yang hilang” sebagaimana dimaksudkan di sini sama sekali tak berkaitan dengan kooptasi struktur, sistem, atau semacamnya; melainkan berada di ranah psikologis dan menyangkut peristilahan subjectum dengan subjectus (subyek aktif dan subyek pasif). Lebih jauh, tesis “diri yang hilang” juga tak serta-merta dapat dikaitkan dengan diri yang teralienasi secara biologis—tubuh ( sema) adalah kuburan jiwa (soma ): hidup adalah keterasingan panjang. “Diri yang hilang” di sini mengakui kesatuan jiwa dan raga, kesatuan emosi dan biologis, juga kesatuan pikiran dengan perbuatan. Namun kenyataannya, betapa sering kita kehilangan “diri” ini dan secara sadar maupun tak sadar menciptakan mekanisme tersendiri untuk mempertahankan eksistensinya, baik yan...

Dual Delusi

ADA SETAN BERKELIARAN DI INDONESIA! Setan kabar merampot. Media massa mainstream secara umum mendefinisikanya sebagai hoax, Sesuai dengan perbendaharaan kata yang muncul dalam kamus Bahasa Inggris versi Merriem Webster yang berarti: Sebuah perbuatan yang bertujuan mengelabui atau membohongi dan menjadikan sesuatu sebagai kebenaran umum melalui fabrikasi dan kebohongan yang disengaja.   Setan itu berkeliaran dimana-mana, ia menyelinap diantara surat rekomendasi negara donor, juga menggedor pintu penguasa dan menyusuri lorong-lorong kawasan kumuh berbau comberan. ia mengisi awal tahun dengan ekspektasi langitan dan menutup akhir tahun dengan akumulasi kedengkian. Membawa angin pengetahuan yang (pura-pura) mencerahkan dan lebih banyak borok pembodohan. Kegeraman terhadap setan itu menjadi semakin kompleks dengan daya jangkau dan kecepatan penyebaranya melebihi kemampuan pemerintah dalam memperbaiki jalanan rusak. Semua kekuasaan berintegrasi dan berikrar dalam aliansi kerama...

Tentang Utopia

Aku dimana? Aku benar-benar takut, bahkan untuk menanyakanya pada diriku sendiri. Aku mendapati diriku berada ditengah-tengah akumulasi jutaan manusia di suatu tempat yang sangat luas. Tidaklah seumur hidup aku pernah melihat tempat yang luar biasa luas seperti ini. Ketika memandang ke utara maka akan sampai ke selatan, ketika memandang ke barat maka akan sampai ke timur, begitu pula sebaliknya. Aku memberanikan diri bertanya dalam hati. Apakah dunia sudah kiamat? Apakah semua manusia sudah mati? Apakah ini sebuah persidangan akhir yang termaktub dalam kitab suci? Atau aku hanya bermimpi? Aku enggan bertanya pada orang-orang telanjang disekitarku. Mana mungkin aku yang waras menanyakan hal-hal yang krusial semacam itu pada orang gila tanpa pakaian? Atau mereka yang waras dan aku yang gila? Ahhh mungkin saat itu memang yang waras tidak berpakaian. Tapi baguslah ternyata aku juga tidak berpakaian, setidaknya aku sama gilanya dengan mereka. Ternyata benar dugaanku, peradaban manusia s...

Tragedi

Koen hanya menatap kosong langit malam diatas atap rumahnya. Diantara semilir angin malam yang menerpa tubuhnya, diantara jelaga pola-pola abstrak awan  mendung, dan diantara keabadian bintang-bintang. Koen begitu menyukai langit karena keluasan dan ketidakberhinggaanya. Ia meyakini bahwa, langit bukan terdiri dari tujuh lapisan, melainkan lebih. Ia tidak tahu berapa dan tidak memusingkanya karena ia lebih suka menganggapnya sebuah rahasia sebab sebuah makna hirarki  langit hanyalah persepsi muka bumi. Barangkali?   Namun, pikiran koen tidak sekosong tatapanya malam itu. Pikiranya hilir-mudik kesana-kemari merancang sengkarut strategi hidupnya kelak. Fase wajar yang pasti dilewati semua anak yang baru lulus SMA. Di satu sisi, ia ingin menjadi filsuf yang akan mencerahkan orang banyak dan abadi, seperti Marx dan Nietzsche, tetapi jauh dari kekayaan. Di satu sisi, rasa ingin membahagiakan ibunya, rasa takut tidak sukses dengan memiliki banyak uang, dan...