Langsung ke konten utama

Muak


Kredit ilustrasi: Lauvdahl
Kredit ilustrasi: Lauvdahl


Belakangan ini pulang kerja dengan perasaan yang sulit dijelaskan selain dengan satu kata yang terdengar sederhana tetapi sebenarnya cukup berat: Muak. Bukan karena ada satu kejadian besar yang membuat saya ingin membanting sesuatu, bukan pula karena satu orang tertentu yang tiba-tiba menjadi sumber segala kesialan hidup, melainkan semacam kejengkelan yang menyebar pelan-pelan ke hampir semua hal, seperti minyak yang tumpah di lantai dapur dan baru terasa keberadaannya ketika outsole sepatu mulai kehilangan grip. Rumah tidak sepenuhnya terasa sebagai tempat pulang, pekerjaan tidak lagi selalu terasa sebagai sesuatu yang menyenangkan, bahkan hal-hal kecil yang biasanya dapat saya lewati begitu saja mendadak memiliki bobot yang aneh.

Ponsel yang terus berbunyi, orang yang bertanya sesuatu ketika kepala sedang penuh, barang yang tidak dikembalikan ke tempatnya, pekerjaan yang seharusnya selesai tetapi muncul lagi dalam bentuk lain, tubuh yang ingin tidur sementara pikiran masih berputar. Semuanya sebenarnya kecil, nyaris terlalu kecil untuk disebut masalah. Tetapi mungkin memang begitulah kelelahan bekerja. Lebih sering ia datang sebagai akumulasi benda-benda kecil yang terus diletakkan di atas meja sampai suatu pagi kita sadar bahwa meja itu sudah tidak menyisakan ruang untuk apa pun.

Saya mengingat satu pagi ketika datang lebih awal ke dapur dan harus bekerja sendirian. Restoran masih belum benar-benar hidup. Lampu sudah menyala, stainless steel memantulkan warna putih yang dingin, beberapa peralatan masih berada di tempatnya sejak malam sebelumnya, sementara bahan-bahan mulai berdatangan dan harus segera dipindahkan, diperiksa, disusun, lalu dipersiapkan. Sesuatu yang selalu saya sukai dari dapur sebelum service dimulai. Untuk beberapa saat ia terlihat seperti tempat yang masuk akal. Semua benda mempunyai posisi. Pisau berada di tempatnya, cutting board berada di meja, saus berada dalam container, daging telah diporsikan, garnish disiapkan, pan ditumpuk, kompor belum dinyalakan atau baru menyisakan panas dari service sebelumnya. Dalam bahasa dapur ada istilah yang sangat sederhana untuk keadaan semacam itu: mise en place, segala sesuatu ditempatkan pada tempatnya sebelum service dimulai. 

Saya selalu menganggap istilah itu menarik, bukan hanya karena ia merupakan pondasi kerja dapur profesional, tetapi karena secara implisit mengandung sebuah fantasi tentang kehidupan: bahwa segala sesuatu dapat dipersiapkan sebelumnya, ditempatkan pada posisi yang benar, lalu ketika waktunya tiba kita tinggal menjalankan urutan yang telah direncanakan. Seandainya kehidupan benar-benar bekerja seperti dapur yang telah melakukan mise en place, mungkin sebagian besar manusia tidak akan menghabiskan separuh hidupnya untuk membereskan kekacauan yang bahkan tidak pernah mereka rencanakan.

Masalahnya adalah service tidak pernah menghormati mise en place. Begitu order pertama masuk, semua keteraturan yang tadi tampak begitu meyakinkan segera diuji. Satu steak datang, kemudian tiga, lalu pasta, kemudian beef salad, kemudian seseorang meminta perubahan pada menu, bahan yang seharusnya tersedia ternyata kurang, orang yang dijadwalkan masuk terlambat, telepon berbunyi, seseorang mencari sesuatu yang tidak berada di tempatnya dan dalam hitungan menit dapur yang tadi terlihat seperti sebuah sistem yang tertata berubah menjadi organisme yang bergerak dengan logikanya sendiri. Pada titik seperti itu tidak ada gunanya lagi mengingat diagram organisasi atau prosedur kerja. Tubuh mengambil alih. Tangan tahu ke mana harus bergerak. Mata membaca warna daging. Telinga menangkap suara pan. Hidung mengetahui apakah sesuatu mulai gosong bahkan sebelum asap mengepul. Seorang cook yang sudah cukup lama bekerja akan melihat saus dan tahu bahwa beberapa detik lagi teksturnya akan berubah, melihat permukaan steak dan mengetahui bahwa panasnya harus diturunkan, atau mendengar suara minyak dan memahami bahwa sesuatu sedang tidak berjalan sebagaimana mestinya. 

Pengetahuan semacam ini jarang tertulis di recipe book. Ia hidup di tangan, mata, telinga, hidung dan ingatan tubuh. Sejalan dengan gagasan James C. Scott mengenai mētis, pengetahuan praktis yang lahir dari pengalaman dan keterlibatan langsung dengan dunia, pengetahuan yang tidak mudah direduksi menjadi prosedur formal karena ia selalu bergantung pada konteks. Seorang petani tahu tanah bukan hanya melalui angka pH, seorang nelayan mengetahui laut bukan hanya melalui prakiraan cuaca, dan seorang cook mengetahui makanan bukan hanya melalui resep. Mereka mengetahui karena telah berjibaku dengan dunianya sampai tubuh mereka belajar membaca sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan logika formal.

Scott menggunakan mētis untuk menunjukkan sesuatu yang lebih luas tentang bagaimana masyarakat bekerja. Negara modern, birokrasi dan proyek-proyek besar sering kali memiliki kecenderungan untuk membuat dunia menjadi legible, dapat dibaca, diukur dan dikelola. Tanah menjadi luas hektare, manusia menjadi jumlah penduduk, rumah menjadi alamat, pekerjaan menjadi jabatan, produksi menjadi angka, waktu menjadi jam kerja. Penyederhanaan semacam itu tentu memiliki kegunaan. Tidak mungkin sebuah negara mengelola jutaan manusia hanya dengan mengandalkan cerita dari mulut ke mulut. Tetapi masalah dimulai ketika peta dianggap lebih nyata daripada wilayah yang hendak dipetakannya, ketika tabel dianggap lebih penting daripada pengalaman orang yang hidup di dalam tabel tersebut. Negara ingin melihat kehidupan dalam bentuk yang sederhana karena sesuatu yang sederhana lebih mudah diatur. Kehidupan sehari-hari justru bertahan karena ia tidak sederhana. Ia penuh improvisasi, kebiasaan, pengecualian, kompromi dan pengetahuan lokal. Hal yang sama terjadi di dapur. Sebuah recipe card dapat memberitahu kita bahwa steak harus dimasak selama sekian menit, tetapi ia tidak tahu persis bagaimana ketebalan daging hari itu, seberapa panas pan yang digunakan, berapa lama daging berada di suhu ruang atau apakah orang yang memasaknya sedang berada pada kondisi tubuh yang sama seperti kemarin. Pada akhirnya selalu ada jarak antara instruksi dan kenyataan. Dalam rentang jarak itulah mētis bekerja.

Saya mulai menyadari bahwa sebagian besar pekerjaan saya sebenarnya terdiri dari mengelola jarak tersebut. Ada standar yang harus dipenuhi, tetapi kondis seringkali tidak ideal. Ada target, tetapi manusia yang menjalankannya selalu berubah. Ada jadwal, tetapi ada yanh sakit. Ada daftar prep, tetapi bahan datang terlambat. Ada pembagian tugas, tetapi service tiba-tiba meledak. Ada hierarki, tetapi pada satu titik seorang commis yang berada paling dekat dengan masalah justru menjadi orang pertama yang mengetahui apa yang harus dilakukan. Di dapur, kepemimpinan tidak selalu muncul dalam bentuk seseorang yang berdiri paling tinggi dalam struktur organisasi. Kadang ia muncul dari siapa yang paling cepat membaca keadaan. Seseorang mengambil alih grill ketika cook lain kewalahan, orang lain mengisi posisi yang kosong tanpa menunggu instruksi, seseorang berteriak meminta bantuan, kemudian beberapa orang bergerak hampir bersamaan. Tidak ada rapat untuk menentukan keputusan itu. Tidak ada PowerPoint. Tidak ada presentasi tentang optimalisasi workflow. Ada situasi dan ada tubuh-tubuh yang merespons situasi. Saya kira banyak organisasi hidup dengan cara yang sama, hanya saja kita sering menyembunyikan kenyataan tersebut di balik bahasa manajemen yang membuat semuanya terdengar lebih teratur daripada keadaan sebenarnya.

Mungkin karena itu saya semakin sulit percaya pada gagasan bahwa manusia seharusnya selalu produktif. Di tempat kerja, produktivitas terdengar seperti sesuatu yang sangat positivistik. Kita harus bekerja lebih cepat, lebih efisien, lebih konsisten. Tetapi tubuh manusia tidak pernah konsisten. Ia bangun dengan kondisi berbeda setiap hari. Ada hari ketika tangan terasa ringan dan pikiran bekerja cepat, ada hari ketika semuanya terasa berat bahkan sebelum pekerjaan dimulai. Ada hari ketika delapan jam berlalu seperti satu jam dan ada hari ketika satu jam pertama terasa seperti hukuman panjang. Namun dunia kerja modern menginginkan satu hal: tubuh yang dapat diprediksi. Tubuh yang datang tepat waktu, bekerja sesuai standar, tidak terlalu lelah, tidak terlalu sakit, tidak terlalu emosional, lalu pulang dan kembali keesokan harinya dalam kondisi siap digunakan. Dalam pengertian tertentu, pekerja ideal adalah pekerja yang berhasil menyembunyikan fakta bahwa ia adalah manusia. Ia harus cukup kuat untuk bekerja tetapi tidak terlalu kuat sampai meminta terlalu banyak. Harus punya kehidupan pribadi tetapi jangan sampai kehidupan pribadi mengganggu pekerjaan. Harus punya keluarga tetapi jangan sampai keluarga membutuhkan waktu. Harus memiliki tubuh tetapi tubuh tersebut harus berperilaku seperti mesin.

Barangkali di situlah salah satu bentuk alienasi yang paling sederhana tetapi paling jarang dibicarakan. Kita tidak hanya terasing dari hasil kerja kita, sebagaimana Marx menjelaskan dalam kritiknya terhadap kerja kapitalis, tetapi perlahan-lahan juga terasing dari waktu kita sendiri. Waktu tidak lagi terasa sebagai sesuatu yang kita miliki. Ia menjadi sesuatu yang harus dialokasikan, dioptimalkan, dijadwalkan. Bahkan ketika tidak sedang bekerja, kepala masih menghitung pekerjaan. Ketika berada di rumah, kita memikirkan besok. Ketika berada di tempat kerja, kita memikirkan rumah. Ketika sedang bersama anak, ada bagian dari kepala yang menghitung berapa jam lagi sebelum tidur. Ketika akhirnya berbaring, tubuh memang sudah berada di kasur tetapi pikiran belum pulang. Dalam kondisi semacam itu, rumah dan tempat kerja bukan lagi dua ruang yang terpisah. Keduanya saling menembus. Dapur restoran masuk ke dalam rumah melalui kelelahan, sementara rumah masuk ke dalam dapur melalui pikiran tentang keluarga. Batas antara kerja dan kehidupan pribadi menjadi semakin tipis sampai akhirnya kita tidak lagi yakin kapan sebenarnya kita sedang bekerja dan kapan sedang hidup.

Mungkin itu sebabnya rasa muak kadang muncul bukan sebagai kemarahan yang jelas, melainkan sebagai keinginan untuk berhenti menerima segala sesuatu. Ada hari ketika saya tidak ingin menjadi orang yang memahami keadaan semua orang. Tidak ingin selalu menjadi orang yang bisa diandalkan. Tidak ingin selalu mencari solusi. Tidak ingin setiap persoalan datang kepada saya hanya karena sebelumnya saya pernah berhasil menyelesaikannya. Ada sesuatu yang sangat kejam dalam reputasi sebagai orang yang mampu. Begitu seseorang terbukti mampu menanggung beban, dunia akan memberinya beban tambahan dengan alasan yang sangat sederhana: dia bisa. Kemampuan kemudian berubah menjadi kewajiban. Ketika seseorang gagal, kegagalannya dianggap masalah. Ketika seseorang berhasil, keberhasilannya segera menjadi standar baru. Semakin mampu seseorang bekerja, semakin banyak pekerjaan yang dianggap wajar diberikan kepadanya. 

Saya kemudian berpikir bahwa mungkin dapur adalah tempat yang terlalu jujur untuk masyarakat modern. Di sana kita tidak bisa berpura-pura bahwa semua sistem berjalan sempurna. Jika seseorang tidak bekerja, pekerjaannya akan terlihat. Jika satu posisi kosong, orang lain harus menutupinya. Jika prep buruk, service akan menunjukkannya. Jika komunikasi gagal, makanan akan terlambat. Jika seseorang kelelahan, tubuhnya akhirnya akan membuat kesalahan. Dapur memperlihatkan hubungan sebab akibat dengan cara yang brutal. Ia juga memperlihatkan bahwa tidak ada individu yang benar-benar bekerja sendirian. Sebuah piring yang tampak sebagai hasil seorang chef sebenarnya merupakan hasil jaringan kerja yang panjang dan sering tidak terlihat. 

Petani, peternak, nelayan, distributor, sopir, warehouse, purchasing, prep cook, dishwasher dan banyak pekerja lain semuanya hadir dalam benda yang akhirnya kita letakkan di atas meja. Makanan adalah salah satu bentuk paling konkret dari kerja sosial, tetapi restoran sering menjualnya seolah-olah ia lahir dari satu tangan kreatif bernama Chef.

Mungkin itu pula alasan saya semakin tidak nyaman dengan romantisasi profesi ini. Ada sesuatu yang indah dalam memasak, tentu saja, tetapi keindahan itu berdiri di atas kerja yang sangat material: kaki yang sakit, tangan yang terbakar, pakaian yang bau minyak, waktu istirahat yang hilang dan orang-orang yang tetap berdiri ketika tubuh mereka sebenarnya sudah meminta berhenti.

Saya pernah berpikir bahwa mungkin memasak adalah bentuk seni, tetapi semakin lama bekerja saya justru merasa ia lebih dekat dengan musik. Bukan karena piring terlihat seperti karya seni, melainkan karena dapur memiliki ritme. Ada tempo. Ada jeda. Ada akselerasi. Ada improvisasi. Ada orang yang memegang groove dan ada orang yang masuk hanya ketika diperlukan. Dalam sebuah service yang baik, setiap orang tidak harus melakukan hal yang sama. Justru sebaliknya, masing-masing harus tahu bagian mana yang menjadi miliknya dan kapan harus memberi ruang kepada orang lain. Dalam hal ini saya selalu kembali kepada Remain in Light milik Talking Heads. Album itu menarik bagi saya bukan semata karena ia merupakan salah satu rekaman penting dalam sejarah post-punk, tetapi karena musiknya memperlihatkan bagaimana keteraturan dapat lahir dari banyak elemen yang tidak seragam. Ritme tidak berdiri sebagai satu garis lurus. Instrumen bergerak dalam lapisan, mengulang, bergeser, saling mengisi, kadang terdengar seperti hampir berantakan tetapi kemudian tiba-tiba menemukan bentuknya sendiri. Ada sesuatu dari musik itu yang mengingatkan saya kepada dapur saat service sedang berjalan dengan baik: bukan keadaan tanpa kekacauan, tetapi kekacauan yang telah menemukan ritmenya.

Dalam pengertian itu, mÄ“tis mungkin bukan hanya kecerdikan praktis. Ia adalah kemampuan untuk hidup di dalam ketidakpastian yang tak membutuhkan cetak biru. Seorang cook tidak menghafal semua kemungkinan service yang akan datang. Ia belajar membaca tanda. Seorang ayah tidak memiliki manual untuk memahami anaknya. Ia belajar dari tangisan, ekspresi wajah, kebiasaan, gerakan tubuh dan ribuan kejadian kecil yang terakumulasi menjadi pengetahuan. Seorang pasangan juga tidak memiliki SOP untuk menjalani rumah tangga. Orang belajar melalui percobaan, kesalahan, percakapan, pertengkaran, kompromi dan kadang-kadang keheningan. 

 Belakangan saya semakin menyukai gagasan bahwa tidak semua sesuatu yang berantakan harus segera dirapikan. Ada bentuk kehidupan yang justru bekerja karena ia tidak teratur. Sebuah keluarga tidak pernah benar-benar selesai mengatur dirinya. Anak tumbuh dan mengubah seluruh ritme rumah. Pekerjaan berubah. Orang datang dan pergi. Tubuh menua. Keinginan bergeser. Hubungan mengalami musimnya sendiri. Bahkan diri kita sendiri tidak pernah benar-benar konsisten. Orang yang kita pikir akan menjadi diri kita sepuluh tahun lalu mungkin tidak mengenali kita sekarang dan mungkin itu bukan kegagalan. Mungkin kehidupan memang bukan proyek pembangunan yang harus selesai tepat waktu. Kita seringkali membayangkan diri sebagai bangunan yang harus terus disempurnakan, padahal mungkin kita lebih menyerupai dapur ketika service berlangsung: panas, berisik, kadang berantakan, penuh kesalahan, tetapi terus bergerak.

Saya tidak tahu apakah rasa muak ini akan hilang. Mungkin besok saya bangun dan merasa lebih ringan. Mungkin juga tidak. Ada kemungkinan bahwa sebagian dari rasa itu memang tidak perlu dihilangkan seluruhnya. Mungkin ia adalah tanda bahwa ada sesuatu yang perlu diperhatikan, bahwa tubuh sedang mengatakan cukup, bahwa kehidupan yang selama ini dijalani dengan terlalu banyak "harus" mulai meminta ruang untuk sebuah "ingin". Saya tidak sedang mencari revolusi besar dari semua ini. 

Kadang-kadang saya bahkan hanya ingin pulang tanpa membawa restoran di dalam kepala. Ingin duduk sebentar tanpa menjadi chef, tanpa menjadi pekerja, tanpa menjadi orang yang harus menyelesaikan sesuatu. Hanya menjadi seseorang yang duduk, mendengarkan musik, mungkin memasak sesuatu yang sederhana, lalu makan tanpa harus menilai apakah plating-nya cukup bagus. Mungkin kebebasan dalam kehidupan sehari-hari memang jarang hadir dalam bentuk spektakuler. Ia datang sebagai waktu yang berhasil kita rebut kembali dari jadwal, sebagai percakapan yang tidak menghasilkan apa-apa, sebagai makanan yang dimasak hanya karena kita menginginkannya atau sebagai setengah jam ketika tidak seorang pun membutuhkan kita.

Pada akhirnya saya mungkin akan tetap kembali ke dapur. Besok, lusa atau pagi berikutnya. Saya akan kembali menyusun mise en place, memeriksa stok, menyalakan kompor, memegang pisau dan menghadapi service yang tidak pernah berjalan persis seperti yang direncanakan.

Pada akhirnya saya tetap akan kembali ke dapur. Bukan karena saya sudah menemukan kembali kecintaan terhadap pekerjaan ini, bukan pula karena semua persoalan tiba-tiba menemukan bentuk penyelesaiannya. Besok pagi lampu dapur akan menyala seperti biasa. Stainless steel akan kembali memantulkan cahaya putih yang sama. Chiller akan dibuka, bahan akan dikeluarkan, pisau akan diletakkan di cutting board, saus akan dipanaskan, daging akan diporsikan dan satu per satu benda akan dikembalikan ke tempatnya. Mise en place. 

Saya bisa saja masih menggantang kemuakan ketika pintu dapur dibuka. Bisa saja kepala saya masih penuh dengan hal-hal yang belum selesai dari rumah, dari pekerjaan kemarin, dari percakapan yang tidak menemukan ujungnya, dari perasaan bahwa ada terlalu banyak bagian hidup yang berjalan tanpa pernah benar-benar saya pilih. 

Tetapi pada pukul tertentu printer akan berbunyi. Seseorang akan berteriak memanggil order. Api akan dinyalakan. Pan akan dipanaskan. Saya akan mengambil tong, memeriksa daging, mendengar suara minyak, mengatur api, memanggil station lain, lalu mengirim satu plate setelah plate berikutnya. Bukan karena saya sedang baik-baik saja. Bukan karena saya sedang bersemangat. Hanya saja karena makanan itu tetap harus keluar.

Mungkin selama ini saya terlalu sering mengira bahwa untuk terus berjalan seseorang harus memiliki alasan yang cukup besar. Seolah-olah setiap pagi kita membutuhkan keyakinan, tujuan atau semacam narasi tentang masa depan agar kaki bersedia membawa tubuh keluar dari rumah. Padahal sebagian besar kehidupan tidak bekerja seperti itu. Ada hari ketika kita berjalan karena memang harus berjalan. Ada hari ketika kita bekerja tanpa merasa pekerjaan itu memiliki makna apa pun. Ada malam ketika kita pulang tanpa membawa perasaan menang atau kalah, hanya membawa tubuh yang ingin berbaring. Mencoba berdamai dengan rutin yang tidak setiap hari harus menghasilkan pemahaman. Tidak setiap pekerjaan harus menjadi panggilan. Tidak setiap kesalahan harus berubah menjadi pelajaran.

Barangkali yang tersisa dari semua ini hanya sebuah bentuk pengetahuan yang sangat sederhana: saya tahu bagaimana rasanya muak, dan saya tahu bagaimana rasanya tetap berdiri ketika sedang muak. Keduanya ternyata bisa hidup dalam pikirqn yang sama. Tidak saling membatalkan. Saya bisa membenci keadaan tertentu tanpa harus meninggalkan seluruh hidup saya. Bisa mencintai sesuatu dan sekaligus jengah terhadap dunia tempat sesuatu itu berlangsung.

Saya kira di situlah saya berada sekarang. Bukan di titik ketika segala sesuatu telah saya pahami, melainkan diantara satu service dan service berikutnya. Diantara rasa muak dan kewajiban untuk tetap bergerak. Diantara keinginan untuk berhenti dan kenyataan bahwa belum semuanya bisa ditinggalkan. Saya tidak tahu apakah itu ketahanan, kebiasaan atau sekadar bentuk lain dari keras kepala. Mungkin tidak perlu diberi nama.

Saya hanya tahu bahwa besok ketika printer kembali berbunyi, saya akan menoleh.

Dan mungkin itu saja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak Ada yang Terjadi dan Itu Intinya: Catatan untuk In Inertia

Ilustrasi: dread.jpg   Ada musik yang bekerja seperti peristiwa. Meledak, meninggalkan bekas, lalu perlahan menjadi kenangan. Ada juga musik yang bahkan gagal menjadi peristiwa, tidak cukup keras untuk mengubah apa pun, tidak cukup lembut untuk menghibur. In Inertia hidup di wilayah itu, wilayah yang tidak tercatat karena tidak pernah benar-benar 'terjadi'. Mendengarkannya terasa seperti menyadari bahwa waktu tetap berjalan meski tidak ada yang penting berlangsung. Dalam ekosistem yang mengharuskan setiap proyek memiliki wajah, cerita dan posisi yang bisa dipasarkan, In Inertia memilih jalan yang berbeda dengan menghilang sebelum sempat dikenali. Tidak ada narasi heroik, tidak ada arsip yang bisa disusun menjadi kronologi. Mereka menolak untuk menjadi subjek dan sebagai gantinya, hanya meninggalkan objek yang bahkan tidak sepenuhnya hadir. Ketiadaan identitas ini bukan sekadar estetika anonim yang sudah sering dipakai untuk terlihat misterius. Ini lebih dekat ke pengosongan, se...

Catatan dari Pinggir Api

Ilustrasi oleh Lauvdahl Manusia selalu menyukai cerita yang sistematis. Cerita yang bergerak seperti garis lurus di brosur universitas: seorang anak muda masuk kampus, belajar dengan tekun, lulus dengan toga yang disetrika sempurna, lalu berjalan menuju profesi yang dianggap pantas oleh masyarakat. Akademisi di satu sisi, pekerja kasar di sisi lain. Dunia pikiran dan dunia tangan dipisahkan seperti dua ruangan yang tidak boleh saling bersentuhan. Seolah-olah kehidupan manusia memang sebersih itu.  Namun kenyataan selalu berkata sebaliknya. Hidup lebih sering bergerak seperti lorong belakang kota: Sempit, penuh belokan, kadang berbau asap dan minyak panas. Tidak ada garis lurus, hanya jalan yang harus ditempuh sambil terus mencoba memahami ke mana sebenarnya kita sedang berjalan. Perjalananku sendiri dimulai di tempat yang sangat akrab dengan gagasan tentang keteraturan: Kampus, jurusan sosiologi. Di sana dunia tiba-tiba berhenti terlihat sebagai kumpulan peristiwa acak....

Gizi, Statistik dan Bau Tengik Kekuasaan

ilustrasi: nobodycorp Entah kemana kemuakan ini menuju setiap kali negara berbicara tentang makanan bergizi dengan intonasi moral narsistik. Program Makan Bergizi Gratis dipoles sebagai tonggak kepedulian sosial, sebuah proyek besar yang konon akan menyelamatkan masa depan bangsa melalui piring-piring nasi yang dibagikan kepada anak-anak sekolah. Kata-kata resmi pemerintah terdengar sakral: negara hadir, gizi diperbaiki, generasi muda diselamatkan. Namun semakin sering narasi itu diulang, semakin jelas bahwa yang kita saksikan bukanlah kepedulian, melainkan pertunjukan pencitraan moral mega kolosal, alat propaganda yang dibungkus retorika teknokratis dan angka-angka anggaran yang fantastis. Di balik piring-piring itu, ada kebohongan halus yang menyelimuti struktur sosial yang tetap timpang. Sebagai seorang chef, aku mengenal makanan dengan semua tetek bengek dibelakangnya. Makanan bukan sekadar sumber gizi; ia adalah simpul jaringan sosial, rantai kerja, politik kepemilikan...