Langsung ke konten utama

Malangku Malam

Masih hangat dalam ingatan ketika malam masih milikku,  ketika semua eksklusifitasnya ia berikan kepadaku. Kegelapan yang menyelimuti tubuhnya begitu lembut menyentuh kulitku yang merah-hitam terbakar matahari. Udaranya yang lembab begitu menyegarkan jiwaku yang terlalu muak akan kepicikan sang siang yang begitu memenjarakanku dengan rutin-rutinnya. Lalu, bulan dan bintang yang ramah tersenyum diantara kaki-kaki langit selalu menyapa dan mendengar semua keluh kesahku yang lagi-lagi tentang kepicikan siang hari. Sungguh, malam begitu kunanti sepanjang hari. Semua aktivitasku sepanjang hari hanya wadal pembunuh waktu yang kukorbankan untuk bertemu sang malam yang selalu ku rindukan dekapnya.

Namun kini aku terdampar di pulau tak berpenghuni karena kapalku dikaramkan ombak kekecewaan yang begitu bernafsu menghancurkanku. Semuanya terasa berbeda setelah aku terdampar disini. Air yang kuminum terasa begitu beracun sehingga tubuhku mulai membiru, udara yang ku hirup begitu perih menyesakkan dada sehingga dadaku mulai menghitam dan mati rasa. Semua yang ada di pulau ini begitu menyakitiku, terutama sang malam, yang dulu begitu dekat denganku.

Di pulau ini malam begitu begitu berbeda dengan malam yang kupunya. Apakah engkau memiliki dualitas dalam dirimu, wahai sang malam? Entahlah. Aku tidak pernah lagi menunggumu datang sejak disini sebab engkau selalu datang menyapa dengan badai halilintar yang sangat menakutkan. Sadarkah engkau, bahwa harapanku sering kau hancur leburkan dengan halilintarmu itu? Kemanakah perginya malamku? Malam yang selalu kurindukan dekapnya? Masih bisakah engkau membaca dengan baik? Sebab semua huruf dalam tulisan ini ku pungut satu per satu di jurang tak berdasar dari luka-lukaku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selamat Ulang Tahun, Sayang

Keluarlah! Keluarlah dari kamarmu dan lihatlah langit malam ini dibawah balkon kamarmu, sayang. Bulan sedang dalam bentuk terbaiknya, bukan? Lihat juga bintang-bintang yang begitu bersinar membentuk pola-pola rasi yang rumit. Tidakkah kamu melihat namamu tereja diantaranya? Ahhhh rasakan juga semilir angin yang berhembus, sayang! Sebab aku menitipkan separuh isi dadaku kepadanya. Aku harap ia dapat menyampaikanya secara utuh padamu, aku juga berharap engkau sedang memakai jaket abu-abumu yang tebal itu, sebab angin tetaplah angin. Aku tidak ingin engkau kedinginan karenanya. Ya. begitulah aku, malam beserta semua elemen-elemen didalamnya yg bersimbiosa menciptakan harmoni yang sangat khas untuk menyambut salah satu hari paling penting dalam hidupmu. Ya, malam ini adalah hari hari keempat dalam bulan oktober kesembilan belas dalam hidupmu! Selamat ulang tahun, sayang! Selamat ulang tahun, Risca Untari Balowahani! Semoga engkau sehat dan bahagia selalu, semoga engkau dapat meraih mimpi-...

Virus Corona: Pandemik Yang Membongkar Busuknya Kapitalisme

Corona, telah ditetapkan sebagai pandemik pada Maret 2020 oleh Organisasi Kesehatan Dunia. Corona, atau yang disebut (Corona Virus Disease) COVID-19 merupakan singkatan dari kata ‘corona’, ‘virus’, dan ‘disease’. Angka 19 yang ada di belakangnya mewakili tahun 2019 saat virus itu pertama kali diidentifikasi. Covid-19 diketahui dapat dengan mudah menyebar melalui tetesan/ percikan cairan dari batuk atau bersin penderitanya. Virus ini mengakses sel inang melalui enzim pengonversi angiotensin 2 (ACE2). ACE2 ditemukan di berbagai organ tubuh, tetapi paling banyak terdapat di sel-sel alveolar tipe II paru-paru. Corona menyebabkan sindrom pernafasan akut yang parah. Orang yang tertular biasanya mengalami gejala ringan dan berat, diantaranya demam, batuk kering, kelelahan, dan sesak napas. Sakit tenggorokan, pilek, atau bersin. Sedangkan beberapa dapat berkembang menjadi pneumonia dan kegagalan multi-organ yang mengakibatkan penderita meninggal. Setiap harinny...

Tentang Utopia

Aku dimana? Aku benar-benar takut, bahkan untuk menanyakanya pada diriku sendiri. Aku mendapati diriku berada ditengah-tengah akumulasi jutaan manusia di suatu tempat yang sangat luas. Tidaklah seumur hidup aku pernah melihat tempat yang luar biasa luas seperti ini. Ketika memandang ke utara maka akan sampai ke selatan, ketika memandang ke barat maka akan sampai ke timur, begitu pula sebaliknya. Aku memberanikan diri bertanya dalam hati. Apakah dunia sudah kiamat? Apakah semua manusia sudah mati? Apakah ini sebuah persidangan akhir yang termaktub dalam kitab suci? Atau aku hanya bermimpi? Aku enggan bertanya pada orang-orang telanjang disekitarku. Mana mungkin aku yang waras menanyakan hal-hal yang krusial semacam itu pada orang gila tanpa pakaian? Atau mereka yang waras dan aku yang gila? Ahhh mungkin saat itu memang yang waras tidak berpakaian. Tapi baguslah ternyata aku juga tidak berpakaian, setidaknya aku sama gilanya dengan mereka!   Ternyata benar dugaanku, peradaban...